Showing posts with label #5BukuDalamHidupku. Show all posts
Showing posts with label #5BukuDalamHidupku. Show all posts

Saturday, 16 November 2013

MATILDA


MATILDA
By Roald Dahl
Text copyright © 1988 by Roald Dahl
Illustration copyright © 1988 by Quentin Blake
MATILDA
Alih Bahasa : Agus Setiadi
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua : Maret 1993
264 hlm; 21 cm


Saya megincar-incar novel satu ini, sampai-sampai saya mendapatkannya di sebuah jual beli online dalam keadaan bekas. Tapi tidak mengapa, mendapatkan buku yang dicari-cari itu sungguh bahagia tiada tara.

Membaca novel ini, seperti membawa saya ke kehidupan saya semaca kecil. Bedanya, Matilda belajar membaca sendiri sedang orang tuanya menentangnya, sedangkan saya di ajar habis-habisan, hehe. Saya sudah pintar membaca sebelum masuk TK, dan ini membuat saya kagum juga kepada Matilda. Di umurnya yang lima tahun, dia sudah membaca buku-buku keren yang bahkan penulisnya baru kuketahui setelah besar.

Novel ini membuka pikiran kita kembali, bahwa diluar sana, bisa saja ada juga orangtua seperti orangtua Matilda yang malah lebih senang bersenang-senang dibanding belajar dan membaca.

“Apa kurangnya televisi? Kita kan sudah punya televisi yang bagus, berukuran duabelas inci, sekarang kau minta buku lagi. Kau ini mulai manja!” – Mr. Worwood (Ayah Matilda)

Saya sangat geram membaca perkataan Ayah Matilda itu. Semoga tidak ada orangtua sekarang ini yang berpikiran seperti itu.

“Kamu tidak suka membaca buku, kita tidak bias mencari nafkah dengan cara duduk bermalas-malasdan membaca buku-buku cerita.” – Mr. Wormwood

Kata-kata Ayah Matilda ini bisa mengandung dua makna dan pelajaran menurutku, pertama karena pikiran beliau memang terlalu sempit tentang dunia membaca dan buku dan kedua adalah memang benar juga kalau kita hanya terus duduk membaca dan tidak mengambil pelajaran dari apa yang kita baca atau malah tidak bekerja sama sekali. Tuan Roald Dahl memang pandai menulis.

Tapi yang tidak bisa dicontoh oleh anak-anak dalam buku ini sendiri adalah kejahilan Matilda kepada orangtuanya. Juga tindakan kepala sekolahnya yang membuat para murid tidak betah untuk ke sekolah. Selebihnya buku ini sangat menghibur karena lucu.

Dan ini perkataan Matilda yang menurutku tidak biasanya dikeluarkan dari mulut anak sekecil dia, sewaktu guru Matilda menyuruhnya menjumlahkan perkalian dan dia menjawab dengan cepat dan benar.

“Saya Cuma memasukkan bilangan dalam ingatan saya, lalu saya kalikan. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan cara lain. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, jika kalkulator yang kecil saja bias, kenapa saya tidak bias? Menurut saya, otak kita jauh lebih hebat daripada sekeping logam, kalkulator sebenarnya kan Cuma logam biasa saja.” – Matilda

Pikiran dewasa saya saja tidak mampu untuk sampai kesana, dan itu sedikit menohok saya yang sedikit-sedikit menghitung menggunakan kalkulator. Ah, otak saya saja yang agak beku. Ini secara tidak langsung menyindir kita yang selalu tidak percaya diri akan kemampuan sendiri dan lebih mempercayai mesin.

Setelah membaca ini, saya semakin gemar membeli dan tentunya membaca buku. Saya sendiri merasa malu kepada Matilda yang mempunyai semangat memba Aca, di tengah-tengah orang yang menentangnya.

Akhirnya saya merasa bersyukur, orang tua saya dulu selalu ada untuk mengajar saya. Menanamkan dalam kehidupan saya agar selalu disiplin dalam belajar, karena sekarang saya begitu mencintai buku dan mengetahui banyak hal dan teman-teman yang keren karenanya.

Bahkan, saya pernah berniat suatu waktu nanti saya akan menamai anak saya Matilda. Jika nanti orang-orang bertanya kenapa Ibumu menamaimu seperti itu, atau teman-teman saya menanyai mengapa memberi nama seperti itu kepada anakkmu, kami akan serempak menjawab bahwa nama Matilda adalah lambang anak jenius yang gemar membaca. Nama adalah doa.

Teruslah membaca, karena membaca tidak pernah membuat kita merasa rugi.

Friday, 15 November 2013

Buku Penyelamat



Mengapa saya mengatakan buku penyelamat? Dia membebaskan saya dari tuntutan belajar selama 3 tahun 10 bulan, dia melepaskan saya dari ketidak sabaran dan keegoisan yang membelenggu, dan membuka mata saya tentang arti dari kesetiaan, ketulusan, dan keikhlasan.
 
Buku yang benar-benar mengubah hidup saya adalah karangan yang saya buat sendiri, karangan ilmiah yang siapa saja pasti akan membanggakan miliknya, yang kita kenal semua dengan sebutan skripsi. Barang siapa yang meremehkan skripsinya, tentu dia tidak sungguh-sungguh dalam pembuatannya.

Sebuah buku setebal empat puluh dua lembar hard cover, adalah buku yang akhirnya tercetak walau masih banyak kekurangan. Ketika menuliskannya benar-benar mengubah hidupku, menghabiskan waktuku yang kuanggap selama ini selalu luang, menguras air mata yang biasanya malah kugunakan ketika patah hati.
 
Siapa sangka, skripsi yang berjudul Pengaruh Frekuensi Pemberian Pakan Rucah Ikan Kering Bervitomolt Secara Berulang Pada Periode Pasang Terhadap Latensi dan Persentase Molting Kepiting Bakau (Scylla spp.) yang berfokus pada kepiting bakau ini dalam penyelesaiannya mampu mengajarkan saya tentang arti persahabatan, arti kesabaran dan keyakinan, dan bagaimana memang seharusnya memberlakukan hewan. 

Mengapa saya mengatakan bagaimana seharusnya memberlakukan hewan, karena sewaktu awal penelitian kepiting saya sendiri ngambek kepada saya, dia tidak berganti kulit sama seperti kepiting kepunyaan teman-teman saya. Saya tahu, saya introvert, tertutup, jarang bicara. Saya pikir, penelitian ilmiah itu tinggal mengikuti proses yang ada secara benar, tetapi untuk mendukung itu semua diperlukan pikiran dan hati yang benar-benar ikhlas dan tulus. Pada akhirnya, setiap mengontrol kepiting, saya mengajak kepiting saya mengobrol, sampai-sampai saya nyanyikan. Seminggu kemudian, kepiting-kepiting saya berganti kulit hampir setiap hari. Kalian tahu, orang yang terlebih dulu sukses dengan mulus itu akan terlihat biasa-biasa saja ketika ia berhasil terus, tetapi ketika keberhasilan setelah menempuh sesuatu penghambat, akan sangat terasa sekali. Saya pun loncat-loncat dipetakan tambak, kemudian mengucapkan terima kasih sambil cengiran lebar di bibirku ketika kembali mengontrol si kepiting.

Roda memang selalu berputar, setelah kita bersedih kita menemukan kebahagiaan, ketika kita sudah cukup bahagia, kita akan diberi sedikit kesedihan lagi, untuk lebih bersyukur. Sewaktu mengontrol di jam sebelas malam, saya melihat kepiting saya banyak yang mati, karena keracunan pakan. Perasaan saya malam itu, mungkin seperti perasaan ibu ketika mendapati saya dalam keadaan panas tinggi di tengah malam. Saya menangis di jembatan tambak sambil memunguti kepiting-kepiting saya yang mati. Awalnya, saya acuh tak acuh kepada si kepiting, ketika kami sama-sama jinak, ternyata sakit juga ketika ada hal seperti ini yang terjadi. Sewaktu itu, saya pikir penelitian saya akan batal dan berniat mengulang. Tapi dosen pembimbing menyuruh saya untuk tetap lanjut. Di jembatan tambak malam itu, saya berjanji kepada kepiting-kepiting saya yang kelihatan sekarat karena kelihatan oleng bahwa selepas saya penelitian, saya akan kembali menjenguk mereka. Entah, mungkin ada dua jam saya merenung di tambak malam itu. Dan benar, setelah saya ujian meja, saya kembali ke tambak itu menjenguk teman-teman kepiting saya. Saya selalu berusaha menjadi orang yang menepati janji.

Mengapa saya bilang juga mengajarkan tentang arti persahabatan karena siapa saja akan menjadi musuhmu ketika gencar-gencarnya merebut gelar dibelakang nama. Mahasiswa-mahasiwa akhir itu basa sensitif, mudah tersinggung. Teman bisa saja menjauh, dan yang tak pernah menjadi temanmu, tiba-tiba datang membantu, serta yang benar-benar temanmu adalah yang dengan setia menemanimu. Hal itulah yang membuat saya mengabadikan nama-nama yang dengan setia dan baik hati menemani saya sampai saya mendapatkan gelar sarjana perikanan saya. Jikalau kamu tidak punya nama khusus untuk dipamerkan di skripsimu, kasihan sekali. Saya pikir kamu harus belajar tentang bagaimana menjadi teman yang baik dan menemukan teman yang benar-benar baik.

Apapun judul skripsimu, yang kamu kerjakan dengan sungguh-sungguh, tidak mengenal universitas mana, fakultas apa, gelar apa yang kau dapati diakhir namamu, pastilah meninggalkan bekas dan pelajaran yang sangat berarti yang tidak akan didapatkan dimanapun. Bahwa pelajaran-pelajaran itu sebagai persiapan agar lebih kebal oleh permaslaahn-permasalahan ketika terjun langsung ke dunia masyarakat dimanapun itu.

Thursday, 14 November 2013

LITTLE WOMEN




LITTLE WOMEN
Diterjemahkan dari Little Women
Karya Louisa May Alcott
Penerjemah: Utti Setiawati
Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka
436 hlm.

Karya klasik yang tak lekang oleh waktu ini bercerita tentang kehidupan empat bersaudari, suatu masa di Concord, Massachussetts. Meg si cantik, keibuan yang bermimpi menjadi ratu bergaun indah. Jo, si Tomboy yang sangat mencintai buku dan sastra. Beth, si Pendiam yang begitu berbakat memainkan piano. Dan Amy, Michelangelo kecil dengan sketsa-sketsa memaukau di kertas gambarnya.


Setelah membaca buku ini, saya langsung menobatkannya menjadi buku yang paling saya sukai. Karena buku ini mampu membuat saya kembali berpikir tentang kehidupan saya. Secara (tidak) langsung, saya mulai kembali belajar.
Membaca buku ini membuat siapa saja akan merasakan Home Sick bagi yang memiliki saudara perempuan, terlebih bagi saya yang latar belakangnya sangat mirip dengan tokoh-tokoh dinovel ini. Memiliki empat saudara yang adalah perempuan semua. Jadi, ketika membacanya saya begitu terhanyut kedalam kisah-kisah mereka sembari membandingkan apa yang tengah saya kerjakan dengan saudari-saudari saya. Sungguh, keluarga mereka adalah keluarga yang penuh dengan kesabaran dan kasih sayang, sungguh jauh dibanding saya dan adik-adik yang kerjanya hanya bertengkar, mungkin cara kami menyampaikan kasih sayang berbeda-beda. Walau di dalam novel ini ada pula pertengkaran-pertengkaran kecil, yang lumrah dialami oleh kakak-beradik. Sungguh ada menyenangkan dan menyeblkannya bersaudara perempuan semua. Menyenangkan karena kamu bisa saling pinjam meminjam barang, saling menceritakan curahan hati, tetapi sulit juga karena terkadang kau akan berlomba mendapatkan barang-barang yang bagus jika ada yang dibeli oleh ibu atau ayah.
               Cerita kekeluargaan yang diangkat penulis sungguh membuat terharu dengan kejadian-kejadian yang biasanya dialami sehari-hari dalam kehidupan nyata, sehingga kita seperti berada diantara lingkaran keluarga yang diceritakan tersebut. Bahasanya ringan dan mengalir, sehingga sulit bagi saya untuk menutup novel ini, dan saya sangat berterima kasih kepada sang penerjemah yang membuat buku ini sangat enak dibaca oleh mata orang Indonesia.
               Bagi yang merasa kesepian, novel ini sangat cocok untuk dijadikan hiburan, selain itu yang jauh dari orangtua, karena kelembutan dan kehangatan sosok Ibu dari keempat gadis dicerita ini sangatlah kuat, banyak nasihat-nasihat yang membuat pembaca menjadi tenang. Dan saya pun merasakan itu. Membuat saya mempertimbangkan kelakuan-kelakuan saya saat ini, dan berniat untuk mencontoh apa yang baik yang terdapat dalam buku ini.

Berikut adalah quote-qoute yang sangat saya sukai dari buku ini, dan menjadi pembelajaran buat saya :

Tak perlu khawatir bakat atau kebaikanmu akan diabaikan, bahkan kalau diabaikan pun, kesadaran bahwa kau memiliki dan memanfaatkannya dengan baik sudah akan memuaskan hati; lagi pula, daya tarik besar dari segala kemampuan adalah kerendahan hati. (Mrs. March hlm. 134)

Anakku, jangan biarkan matahari membakar kemarahanmu. Bermaaf-maafanlah, saling menolong, dan besok mulai dari nol lagi. (Mrs. March hlm. 145)

Selalu ingat berdoa, Sayang. Jangan pernah bosan berusaha, dan jangan pernah berpikir bahwa mengatasi kesalahanmu itu mustahil. (Mrs. March hlm. 150)

Dan yang paling membuat saya terharu adalah saat berada di halaman 155:

Anakku, kesulitan dan godaan hidupmu sudah dimulai dan barangkali akan banyak, tapi kau bisa mengatasi dan menanggung semua itu, kalau kau belajar merasakan kekuatan dan kelembutan Tuhan seperti merasakan Ayahmu yang ada di bumi. Semakin besar cinta dan kepercyaanmu pada-Nya, kau akan merasa semakin dekat dengan-Nya, dan semakin kecil pula ketergantunganmu pada ketakutan serta pandangan manusia. Kasih dan perlindungan-Nya tidak pernah berkurang atau berubah, tidak pernah bisa diambil darimu, tapi bisa menjadi sumber kedamian, kebahagiaan dan kekuatan yang abadi. Yakinilah sepenuh hati, dan datanglah pada Tuhan dengan membawa seluruh masalah kecil, harapan, dosa, serta kesedihanmu dengan bebas dan penuh kepercayaan seperti halnya kau mendatangi ibumu.

Sungguh, tidak ada yang membuat hati tenang selain nasihat dari orang tua, terkhusus ibu. Mendengar suaranya saja, sudah membuat hati tenang. Dan, oh, membaca buku ini membuat saya (yang tidak berada di rumah) rindu pulang. Rindu bertemu adik-adik saya yang selalu bisa membuat saya marah dan bahagia di satu waktu. Disaat bersama pasti timbul pertengkaran-pertengkaran tepai begitu jauh, rindu muncul melebihi apapun.

Banyak masalah yang dialami gadis-gadis ini, tapi mereka melawatinya dengan sangat dewasa dan bijaksana sehingga membawa cerita ini menjadi akhir yang bahagia. Ini adalah salah satu buku yang sangat saya sayangkan untuk segera menamatkannya tetapi begitu penasaran untuk tidak segera sampai di halaman terakhir.

Setelah ini, aku akan menyuruh ketiga adikku untuk membaca buku ini juga sembari belajar. Semoga kami selalu menjadi saudari yang rukun.



Wednesday, 13 November 2013

Dear Diary ....

 Dear Diary …

Seperti itulah yang selalu tertera sebagai salam pembuka di dalam buku ini. Bagi siapapun, buku ini sama sekali tidak bagus, apalagi berkesan. Tetapi satu-satunya buku yang paling diincar teman-teman ketika bertandang ke rumah. Berlomba-lomba mencari cara untuk mencuri tahu apa isinya. Kehidupan orang lain memang terkadang terlihat lebih menarik.

Saya senang dengan sesuatu yang terbatas, saya senang memiliki barang-barang yang unik, maka saya membuat buku-buku diary saya sendiri. Secara tidak langsung, untuk membuat buku ini saja saya harus belajar, berimajinasi dan lebih kreatif.



Buku yang nantinya bisa saja menjadi buku autobiografi karangan sendiri. Buku yang menjadi warisan bagi anak dan cucu, kelak ketika mereka dengan tidak sengaja menemukannya di gudang. Karena jujur saja, isinya tidak untuk dipamerkan secara gamblang.

Saya suka mengumpulkan buku-buku catatan kecil sejak SD tetapi mulai menulis ketika saya menginjak SMP, naluri remaja saya yang tumbuh sedikit demi sedikit memerlukan wadah yang cukup mampu menyimpan rahasia untuk bercerita dengan bebas.

Ketika sedang tidak ada kerjaan, saya biasanya membuka-buka kembali buku diary saya. Sekedar untuk bernostalgia sendiri, dan betapa lucunya mendapatkan diri sendiri pernah menulis seperti itu. Mendapatkan tulisan yang saat itu sedang merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati dan isinya terdapat kata-kata penyemangat. Ternyata, bisa juga menjadi motivator, walau hanya sebatas untuk diri sendiri. Membuka kembali buku yang berisi tentang kenangan masa lalu membuat saya berpikir, dulu aku terlampau gundah, sedih dan putus asa ketika mendapati masalah pada saat itu dan pada akhirya semua bisa teratasi. Semua akan terlewati karena kita terus berjalan. Akhirnya ketika membaca ulang, yang hanya kita lakukan adalah menertawakan diri kita sendiri.

Membuka kembali buku ini membuat saya mengingat dosa-dosa yang lampau. Tertulis, saya pernah membenci ini, saya pernah tidak suka dia, saya pernah menjahati dia. Tindakan menulis terlalu jujur inilah yang akhirnya dengan tidak sengaja menegur saya bahwa berteman itu tidak pernah mulus. Ada-ada saja yang tidak kita sukai, dan sebaliknya. Mengingatkan saya, bahwa betapa kekanak-kanakannya saya begitu mudah tidak menyukai sesuatu, dan pada akhirnya memberikan pelajaran untuk lebih dewasa dalam meyikapi persoalan dan tidak melihat dari satu sudut pandang. Mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan yang membuat kita kembali berdoa agar diampuni dan berpikir untuk tidak melakukannya lagi. Dalam konteks inilah kalimat jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan untuk kembali dan berdiam diri, karena hidup terus berlanjut.

Membuka kembali buku ini, membuat saya tergelitik sendiri. Ada cinta monyet, ada suka diam-diam. Menimbulkan rona merah di pipi, walau tidak semerah saat meraskannya. Ada yang datang, ada yang pergi. Mengajarkan lagi bahwa pasangan hidup itu benar-benar misteri. Merasa gembira ketika mendapatkan sesuatu, merasa bersedih ketika sesuatu itu hilang. Bahwa, kehidupan itu memang benar-benar berputar, kita tidak akan pernah merasa bersedih terus, pun tidak dibiarkan bersenang-senang.

Halaman per halaman yang telah saya tulis, membuat saya merenung. Ketika saya berhasil menuliskan halaman-halaman di hari-hari selanjutnya dengan konflik-konflik yang terjadi dalam hidup saya sendiri, berarti saya mampu menjalani masalah tersebut. Karena Tuhan tidak pernah memberikan kita cobaan melebihi kemampuan kita. Kapan hari ketika saya sudah tidak mampu melewati hari-hari yang diberikan Tuhan, maka tidak pula lembaran-lembaran selanjutnya yang berisi coretan saya di buku itu. Karena saya sudah tidak ada lagi.

Dulu, tidak pernah terlintas dibenak saya, menulis buku diary akan membuat hidup saya lebih berarti. Membuat saya belajar atas apa yang terjadi pada kehidupan saya yang lalu-lalu.

Mari terus menulis, karena menulis itu belajar, menyembuhkan, memotivasi, dan membuat kita abadi.