Showing posts with label Cerita Tentang Sukab. Show all posts
Showing posts with label Cerita Tentang Sukab. Show all posts

Thursday, 6 March 2014

Melepaskan Sukab (?)



Malam merayap perlahan, membuat mata siapa saja menjadi redup. Tapi tidak yang aku lihat pada Sukab. Lelaki tampan yang berani mencuriku. Dia terlihat amat lesu. Pikirannya tentu sedang berjalan-jalan. Terlihat dari matanya yang melirik tak tentu arah, sesekali rambutnya dia usap dengan kasar. Bulir-bulir keringat semakin banyak menghiasi keningnya padahal angin bertiup dengan kencang. Sebentar duduk, sebentar berdiri, sebentar ke kanan, sebentar ke kiri. 

Salahkah aku yang menahannya? 

Aku menatapnya lamat-lamat. Hatiku amat senang melihat wajahnya yang rupawan itu, membuat wajahku semakin merona, pasti aku semakin terlihat elok karenanya. Aku ingin terus di sini bersamanya dan menatapnya. Tapi, aku pun tidak tega karena harus melihatnya menderita. Sebegitu pentingnya aku buat diberikan kepada kekasihnya itu?

Cinta, menderita seperti inikah jika merasakannya?

Ah, seperti apa rupa perempuan bernama Alina itu?

Ada baiknya aku turut melihat perempuan yang membuat pujaan hatiku ini gelisah.

Jika Sukab membawaku esok, aku mungkin akan membuat wajahku tidak rupawan. Seperti apa reaksi Alina mendapati Sukab membawakan senja yang tak indah untuknya.


Bersambung ...


Cerita sebelumnya:

Tuesday, 11 February 2014

Tidak Ada Senja Untuk Alina Hari Ini



Entah berapa lama si Tuan Sukab ini menyembunyikan diri di gorong-gorong gelap dan busuk ini. Suara jangkrik melengking, belum lagi suara kodok yang haus, sepertinya tersesat dan meminta air turun dari langit. Angin tidak lagi berhembus sampai kesini, membuat tempat ini semakin pengap saja, belum lagi bau busuk yang menyeruak sedikit demi sedikit tapi pasti.

Aku sungguh tidak terbiasa berada di tempat seperti ini. Aku merasa takut sekaligus kesal. Bulir-bulir kecil air keluar membasahi amplop cantik yang dipakaikan Sukab untuk mengirimkanku ke kekasihnya. Ya, aku menangis. Aku benar-benar tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Kecantikanku terasa lenyap dan tidak ada artinya.

Aku menyadari tubuhku perlahan berubah. Oranye yang tadi kemerah-merahan kini memudar ditambah sedikit warna kelabu juga hitam. Sendu dan pucat. Aku bukan diriku yang biasanya.

Aku menyadari desahan Sukab yang akhirnya mengetahui bahwa amplopnya kini sobek karena basah. Dia melongok keluar ketika menadari keadaan sudah aman dan semakin kesal karena ternyata diluar tengah hujan deras.

“Sial! Bagaimana dengan sore kali ini? Aku tidak jadi bertemu dengan kekasih hatiku lagi, Alina.” Dia mengumpat dan kulihat dari balik amplop yang sobek, dia mengusap wajahnya dengan frustasi dan menggaruk-garuk kepalanya kesal.

Tangisku semakin pecah. Tuan tampan ini sungguh egois sekali, dia bahkan tidak menyadari perubahan fisikku dan masih saja mencemaskan pertemuannya dengan Alina. Alina, Alina, dan Alina! Aku begitu kesal, menggerutu dalam hati sambil menangis maka aku terbatuk-batuk. Di luar, suara Guntur menggelegar dan kutahu itu menyadarkan si tuan pencuri tampan ini.

“Sebaiknya aku pulang saja. Dan oh…” Dia begitu terkejut ketika baru saja melihatku, “aku tidak mungkin menghadiahkan senja dengan kondisinya yang seperti ini kepada kekasihku, Alina,” lanjutnya.

Tiba-tiba pikiran licik memenuhi kepalaku. Aku sungguh tidak merelakan tubuhku yang cantik ini dinikmati dan dimiliki oleh Alina. Aku ingin tinggal bersama tuan Sukab yang tampan ini.

Aku akan terus berpura-pura sakit, mengeluarkan air mata setiap sore dan terbatuk-batuk, agar tetap bersama Sukab.


Bersambung…


Cerita sebelumnya:
* Menunggu Sukab
** Perkenalkan Aku Senja

Kepada Tuan Sukab si Pencuri



Selamat sore Tuan Sukab,
Kemana saja dirimu? Apakah masih mencari senja yang sempurna untuk kekasihmu? Ah iyah, kekasih yang mana lagi yang kau janjikan senja?

Tuan Sukab yang tampan,
Aku selalu menantimu disetiap sore, berharap kau datang dengan membawa pisau kecilmu. Aku rindu tatapan matamu yang berkilat-kilat penuh ambisi.

Tuan Sukab yang tampan,
Ini, aku disini. Sudah beberapa hari ini aku bersolek, ingin menyuguhkanmu kecantikanku. Biasanya kau akan datang di bulan ini. Bukankah bulan ini, bulan yang tepat untuk mencuri, Tuan? Bulan yang kata orang penuh kasih sayang. Mencurilah lagi Tuan, untuk dihadiahkan.

Tuan Sukab yang tampan,
Aku beritahu, kalau kau ingin mencuri lagi, datanglah ketika radio masjid mengumandangkan suara orang mengaji. Orang tidak akan melihatmu, mereka semua akan sibuk mandi sore dan bersiap menuju mansjid untuk shalat atau bahkan anak-anak muda bersolek untuk siap pergi berkencan. Itu akan membebaskanmu dari kejaran dank au tak akan sembunyi do gorong-gorong busuk lagi, Tuan.

Tuan Sukab yang tampan,
Kuberitahu lagi, kau boleh mencuri. Tapi, tidak usah kau hadiahkan kepada, siapa kekasihmu itu? Ah yah, Alina atau calon kekasih-kekasihmu yang lai untuk membahagiakannya. Mengapa tidak kau simpan saja untukmu? Aku tahu kau ingin menghadiahkan hasil curianmu kepada kekasihmu agar mereka mengingatmu karena kamu sendiri mencintai hasil curianmu itu, senja. Seolah jika kekasihmu menyukai hasil curianmu itu, dia pun menyukaimu.

Simpan saja untukmu, yah!

Satu lagi Tuan Sukab. Bawalah pisau yang tajam agar kau tidak terlalu menyakiti atau bahkan melukai curianmu itu.

Surat ini hampir habis, Tuan. Apa kau tidak mengerti juga?

Kuingatkan sekali lagi.

Aku menantimu, aku selalu bersolek untuk menyuguhkan kecantikanku padamu, aku mengizinkan kau mencuri lagi tapi hadiahkan untukmu, bawa pisau yang tajam agar tidak melukai.

Tuan Sukab yang tampan,
Aku ingin kau mencuriku sekali lagi untuk kau hadiahkan kepada dirimu sendiri.



Yang ingin kau curi sekali lagi,



Senja

Saturday, 1 February 2014

Perkenalkan Aku Senja



Aku baru saja bangun dari tidurku dan ingin segera memulai menebarkan pesonaku. Orang-orang melankolis selalu suka akan aku. Bahkan mereka tergila-gila. Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuhku dan lama-lama mengirisku. Aku melihat sosok lelaki dengan pisau ditangannya. Pasti benda yang ditangannya itulah yang mengeluarkan hawa dingin. Tapi aku pasrah saja setelah melihat wajahnya yang rupawan. Akulah senja, yang dengan pasrah di potongnya.

“Alina, aku mendapatkan senja yang sempurna untukmu.”

Aku mendengar suaranya yang berat dan bisa menghipnotis siapa saja. Tiba-tiba aku tidak bisa melihat apa-apa lagi, bahkan wajah dan tubuhku yang cantik jelita. Aku dimasukkan kedalam kurungan persegi panjang.

“Alina, tunggulah aku di rumahmu. Kuamplopkan senja ini untukmu. Seperti maumu.”

Aku mendengar suaranya lagi, lamat-lamat. Alina, perempuan itu pasti perempuan manja yang pernah ada, seenaknya saja meminta sesuatu. Aku tiba-tiba merasa kesal padanya.

“Itu dia, dia yang memotong senja yang dari tadi kita tunggu-tunggu kedatangannya. Ayo kejar.”

Itu pasti bukan suara lelaki tampan yang tadi memotongku. Suaranya cempreng. Kurasakan tempat kurunganku bergetar hebat. Lelaki tampan itu pasti sedang berlari. Dan, oh bau apa ini?

“Sial, salah satu warga penunggu senja melihatku tadi dan aku harus berada di gorong-gorong yang bau. Alina, maafkan aku. Kau pasti marah karena senja yang kukirimkan terlambat.”

Lagi-lagi Alina. Perempuan yang akan memilikiku? Oh tidak. Sejak mendengar namanya pertama kali dari bibir lelaki tampan ini, aku sudah tahu aku tidak menyukainya. Apa tadi aku salah dengar? Aku berada di gorong-gorong? Aku senja yang cantik yang semestinya berada di tempat tinggi dan dinikmati orang-orang, bukannya Alina!


Bersambung...