Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Saturday, 31 January 2015

Surat Pelabuhan Terakhir kepada Pelaut

Gambar diambil dari pinterest.com

 





Hai yang katanya bersedia melaut di laut yang tidak tenang karena bukan pelaut yang tangguh jika tidak, barangkali kamu tengah terombang-ambing di tengah lautan menuju pelabuhan terakhirmu, oleh karena itu surat ini saya posting saja dulu di blog. Tidak ada tukang pos yang bersedia membawakanmu ke tengah laut. Kurasa, kalau tukang pos yang tergila-gila dan jatuh hati padamu mungkin saja. Apasih yang tidak kalau sudah menyangkut cinta. “Lautan kan kusebrangi.” Begitu misinya.

Aku memberikanmu sedikit gambaran, kalau surat versi asli ini tertulis di atas kertas lucu berlatar gambar di atas.

Kalau kamu mendarat kamu boleh membaca versi surat asli sampai bosan. Walau keadaan tak lagi sama, surat tetap mampu menyimpan chemistry. Rasa ketika menulisnya mampu kamu rasa ketika membacanya walau itu sudah lama, itu menurut saya. Seperti yang kamu bilang, surat itu benda mati yang menghidupkan, belakangan kupikir memang benar, dia menghidupkan rasa.

Aku pernah bertanya, kalau kamu menerima surat, yang isinya seperti apa yang kamu mau. Kamu menjawab yang berisi pengharapan si penulis kepadamu.

Kalau kamu sempat membaca surat yang kuposting di blog, berarti signal di tengah laut lagi lancar-lancarnya. Itu harapanku. Aku berharap kamu bisa membacanya secepat mungkin. Tapi jika kamu membaca surat yang versi asli, seperti di awal sudah kujelaskan, berarti pengharapanku juga terkabul. Aku berharap kamu bisa menjadi pelaut yang tangguh dan selamat sampai di pebuhan yang kamu pilih, aku misalnya.

Ah, sebelum surat absurd ini berlanjut, baiknya saya sudahi dulu. Perut saya perlu sesuatu yang nyata untuk tetap melanjutkan hidup. Kamu akan tahu isi surat ini seperti apa sebenarnya, seperti katamu penerima surat tidak boleh hanya sekadar menerima surat tapi mampu menerima apa yang ada di dalam surat tersebut. Kalau kamu sudah menerima, aku menunggu balasannya.


Salam rindu,


Yang selalu mencoba menjadi pelabuhan terakhir

Friday, 30 January 2015

Surat Untuk Saya



Halo, Saya!

Kuletakkan secangkir kopi untukmu di meja makan, sudah kumasukkan beberapa balok kecil es batu. Kamu tidak suka kopi panas, kan? Coba kamu sering-sering bercermin, beberapa bulan ini kamu selalu lupa beberapa hal, kamu sudah mencegahnya dengan menulis note dan menempelkannya di cerminmu. Tapi kamu masih saja lupa. Kamu lupa kalau kamu jarang bercermin!

Ada baiknya kamu seperti itu, suka lupa. Tapi lupakan yang memang perlu dilupakan. Misal dia yang tempo hari membuatmu menghabiskan beberapa lembar tissue dan beberapa puluhan ribu pulsa untuk menelpon sahabat-sahabatmu untuk bercerita.

Sudah kumasakkan sayur tumis kangkung kesukaanmu. Cabenya ada lima. Kamu suka pedas kan? Jangan lupa makan. Jangan jadikan pikiranmu yang menganggap kamu itu berlebihan lemak sebagai alasan untuk tidak makan. Ada banyak orang yang suka dengan bodi seperti itu, dia bakalan bilang kamu peluk-able.

Ah, jangan lupa untuk menulis surat setiap harinya. Ada baiknya kamu menempelkan note mu di rak bukumu saja. Itu akan membuatmu cepat ingat, hampir setiap pagi kamu mengecek rak bukumu, takut kalau ada yang hilang. Tulis suratlah tiap hari, dan jatuh cintahlah!

                                                                                                                                             
 Salam cinta,

                                                                                                                                                       

Dirimu!

Sunday, 2 March 2014

Kepada Tukang Pos @Gembrit



Hari ini hari terakhir bagi kita…… 

Halo tukang pos!

Wah, sangat terasa sekali yah, kita sudah berada di ujung hari #30HariMenulisSuratCinta. Tigapuluh hari juga saya menemani tab mentionmu. Iyah, tigapuluh hari, karena walau temanya surat kaleng saya tetap menulis surat cinta seperti hari-hari biasanya. Kadang saya begitu pelupa, bahkan mengenai hari. Terima kasih sudah mau dan sangat berbaik hati untuk mengantarkan surat-surat saya.

Surat terima kasih sekaligus perpisahan ini saya kirimkan untukmu sebagai teman minum, minuman apapun itu yang menjadi kesukaanmu. Kamu boleh menambahkan banyak-banyak gula ke dalam minumanmu itu, karena surat yang kukirim ini sama sekali tidak manis.

Dari pelanggan setiamu,

Dhani Ramadhani

Saturday, 1 March 2014

Kepada Bosse @Poscinta



Kepada bosse (kepala) tukang pos surat cinta,

#30HariMenulisSuratCinta tinggal sehari lagi, semoga kantormu tidak jadi sepi sesudahnya. Seperti jika di rumah ada acara keluarga, semua sepupu yang jauh berdatangan turut meramaikan, setelah acara selesai mereka bergegas pulang dan rumah sunyi lagi. Mereka akan datang jika ada acara besar lagi.

Bosse,

Terima kasih selalu setia mengadakan kegiatan ini. Romantisme surat menyurat jadi tidak terlupakan dan yang hidup bukan di zaman surat menyurat lagi ngetren, bisa turut merasakannya.

Bosse,

#30HariMenulisSuratCinta tinggal sehari lagi, sudah berapa surat cinta yang kau dapatkan? Semestinya banyak, mengingat kamulah yang menjadi penggagas ini semua. Tapi sepertinya, orang nomor satu selalu siap dilupakan. Seperti ketika membaca novel terjemahan, kita sibuk memuja-muja penulisnya yang pandai berkata-kata, tapi sebenarnya penerjemahlah yang semestinya kita acungi jempol atas keberhasilannya merangkai sekaligus menerjemahkan novel tersebut agar tetap enak kita baca.

Bosse,

#30HariMenulisSuratCinta tinggal sehari lagi, jika kamu banyak menerima surat cinta karena memang kamu pantas mendapatkannya, jadi sudah berapa surat cinta yang kamu balas? Ah, pasti tidak sempat yah, mengingat kamu sibuk sekali. Tapi, membalas surat itu tidak akalah enak dibanding menerima surat loh!

Bosse,

Sampai ketemu disurat-surat yang lainnya.



Dari yang senang sekali menerima surat balasan,



Dhani Ramadhani

Friday, 28 February 2014

Kepada Bulan yang Katanya Berwarna Merah Jambu



Kepada bulan yang katanya berwarna merah jambu,

Terima kasih sudah menyediakan hari-hari yang singkat, saya bisa cepat-cepat menuju bulan dimana saya ulang tahun. Kamu selalu dipakai symbol bulan bertabur cinta. Apa kamu setuju? Apa kamu tidak enak hati dengan bulan-bulan yang lain? Atau bisa jadi kamu disimbolkan seperti itu karena jumlah harimu singkat, bertajuk kisah cinta itu tidak ada yang bisa berlama-lama atau abadi? Ah, apapun itu saya berterima kasih untuk hari-hari singkat yang kamu berikan.

Kepada bulan yang katanya berwarna merah jambu,

Katanya kamu berwarna merah jambu karena orang-orang memperingati kasih sayang dengan keromantisan mereka. Saya tidak menganggapmu merah jambu ah, entah kenapa merah jambu itu mengingatkan saya akan orang yang manja. Jangan salahkan pemikiran saya! Saya hanya mau berterima kasih karena saya dapat beberapa surat dari teman-teman saya, berkirim surat yang sudah sedikit terlupakan. Surat yang sama sekali bukan merah jambu tapi membuat saya jatuh cinta.

Kepada bulan yang katanya berwarna merah jambu,

Selamat tinggal, sampai ketemu tahun selanjutnya. Saya berharap ketika kelak kita bertemu lagi, kamu tidak menjadi bulan yang manja.


Dari perempuan yang tidak suka warna merah jambu,



Dhani Ramadhani