Showing posts with label #tantangannulis. Show all posts
Showing posts with label #tantangannulis. Show all posts

Tuesday, 6 October 2015

Hijab Ternyaman

Wah, ini pertama kalinya saya membahas hijab (sekarang ini) dulunya saya sering bilangnya jilbab. Em, kali pertama saya menggunakan jilbab itu saat masuk Sekolah Menengah Atas dan itu karena PerDa! iya, Peraturan Daerah. Bagi yang berdomisili di Sulawesi Selatan, ini sudah tidak kaget yah. Peraturan Daerah ini berlaku sejak tahun 2005. Anak remaja berusia lima belas tahun seperti saya tentu ada pemberontakan mengenai peraturan daerah itu dengan alasan belum siaplah, masih kecil lah. Tapi buat apa boleh, kita pakai jilbab ke sekolah pada akhirnya dengan sedikit pemberontakan tetap tidak memakai jilbab saat di luar sekolah. Jadi malu kalau ingat dulu.

Waktu itu saya yang memang pertama kalinya memakai jilbab tidak tahu menahu cara memakainya, alhasil setiap subuh saya harus membangunkan Ibu saya untuk memakaikan jilbab. Di sekolah pun saat waktu shalat, saya berwudhunya tidak melepas jilbab karena takut tidak bisa memasangnya kembali. Kadang saya menangis di pagi hari ketika cara Ibu saya memakaikannya tidak sesuai keinginan saya. Pada akhirnya saya memilih jilbab yang langsung pakai ke sekolah, tapi tidak berlangsung lama karena pihak sekolah melarang, tidak formal katanya. Hahaha tuh kan pipi saya mulai merah.

Tapi lama kelamaan, seiring naiknya tingkatan kelas, keterampilan memakai jilbab sendiri ke sekolah menjadi mahir. Di luar sekolah pun, jika berangkat kursus sudah mulai memakai jilbab, walau kalau bertandang ke rumah teman masih belum. Istilahnya dulu, sedikit-sedikit, ala bisa karena biasa.

Ini jilbab langsung pakai yang menjadi andalan saya dulu, simpel. Hahaha
(saya: ketiga dari kanan)

Waktu semester-semestar awal di dunia perkuliahan saya memutuskan untuk tetap memakai jilbab saya. Sebenarnya bukan sepenuhnya keinginan sendiri, tapi karena di suruh sama Bapak, hehe. Tapi percayalah, paksaan itu kadang berbuah baik. Kalau saja dulu tidak dipaksa, mungkin proses memakai jilbab masih agak panjang, hehe. Sewaktu kuliah gaya berjilbab saya masih sama, masih dengan kain segi empat. Simpel, karena saya orangnya tidak suka bercermin, kalau pakai jilbab yang ribet, sedikit-sedikit bercermin untuk memperbaiki jilbab (begitu yang sering teman-teman saya lakukan, hihi)

Mungkin karena saya mengambil jurusan yang lebih banyak berinteraksi di lapangan, jadi pakaian harus sesimpel mungkin untuk mudah bergerak. Tapi memang model jilbab seperti itu yang sangat nyaman saya pakai, dalam sehari bisa aman tanpa miring kanan dan kiri, hehe. Nah saat kuliah inilah saya terus menerus memakai jilbab meski itu keluar rumah, dan alhamdulillah sampai sekarang.

Sekarangnsetelah tamat kuliah dan mulai bekerja, model jilbab saya sama saja. Yah, tetap itu tadi karena saya memnyukai kesimpelan dan didukung oleh kerja saya yang lebih banyak berada di lapangan.
Gaya berjilbab sesimpel ini membuat saya bebas mengelilingi tambak
walau angin menerpa dan panas menerjang *halah

Walau yah, saya juga kadang-kadang biasa memakai jilbab yang berpentul dan berlilit seribu karena disesuaikan dengan acara, misal ke pengantin atau pesta-pesta lainnya.


Tapi tetap yah, gaya berjilbab yang nyaman di hati saya adalah
Yeah, dari seribu gaya jilbab, gaya ini yang paling nyaman.
Intinya sih yah, kembali tergantung dari individu masing-masing. Kalau saya berjilbab yang nyaman adalah yang tidak membuat saya bolak-balik bercermin memastikan jilbab saya rapi atau tidak, lalu menghambat pergerakan saya, hehe. Tidak menutup kemungkinan mereka yang  jilbabnya dimodel sedemikian rupa tidak membawa kenyamanan bagi mereka, yang penting tetap instiqamah yah ^^

Tulisan ini diikut sertakan pada GA yang dibuat oleh Mbak Ruli, klik di sini kalau kamu mau ikutan dan share cara berjilbab yang nyaman bagi kamu ;)

Saturday, 1 August 2015

Kreasi Tanpa Batas dengan SHARP AQUOS Crystal




SHARP AQUOS Crystal. Pertama mendengar merek Sharp, yang terlintas langsung TV. Tapi kali ini perusahaan Jepang ini mengeluarkan produk smartphone. Smartphone Sharp ini adalah sebuah terobosan dalam teknologi ponsel masa kini. Desain layar kristal dengan bezel yang sangat tipis di sisi-sisinya membuat Sharp menjadi pelopor smartphone frameless di masa depan. Dengan kata kekinian yang sering digunakaan orang-orang, tidak lengkap lah yah kalau tanpa didukung ponsel yang kekinian juga, hehehe.

SHARP AQUOS Crystal  didesain dengan inovasi layar jernih tanpa batas, kemampuan suara yang luar biasa, serta kamera yang membuat seorang amatir terlihat profesional. Kalimat membuat seorang amatir terlihat profesional ini menggugah selera deh, sekarang ini setiap apapun yang dilakukan mesti ada fotonya, katanya no picture, hoax! Mau makan difoto dulu, kumpul bersama teman tidak afdol rasanya tanpa diabadikan, nah apalagi kalau mau posting di blog, harus didukung oleh gambar-gambar yang menarik hasil cepretan sendiri. Dengan adanya SHARP AQUOS Crystal  yang memiliki fitur kamera Scenery Modes, Framing Adviser, Night Shot, HDR, Panorama, Sequential Shots, dan Shutter Detect bisa menjawab masalah, tanpa perlu menenteng kamera canggih yang berat itu.


Dengan semangat tanpa batas-nya, SHARP AQUOS Crystal yang dilengkapi dengan teknologi Night Catch juga tidak menghambat kreatifitas yang seharusnya juga tanpa batas. Kalau punya nih, saya tidak perlu takut lagi kalau mau menggambil gambar di malam hari, apalagi cuma di tempat yang kurang cahaya, dan tidak hanya objeknya saja yang akan terlihat bagus, juga dengan latar belakangnya. Sebagai seorang pecinta buku, kadang kalau lagi membaca buku di malam hari pengen upload foto buku yang dibaca tapi hasilnya selalu buram. Semakin ke sini semakin pengen punya SHARP AQUOS Crystal deh buat berkreasi dengan semangat tanpa batas. Hihihi.


Saya orangnya moodian, untuk mengatasi itu saya suka mendengar lagu-lagu kalau mood saya lagi kacau. SHARP AQUOS Crystal ini dilengkapi dengan teknologi Direct Wave Receiver yang menghasilkan suara yang jernih. Pasti lagu-lagu makin enak di dengar, bisa sambil nari-nari karena Direct Wave Receiver-nya bisa menyesuaikan ponsel dalam posisi apapun sesuka saya dan moodku akan kembali baik.

Saya kalau dengerin musik barat, suka cari liriknya dan men- screenshot agar mudah dilihat kembali. Sharp Aquos ini dilengkapi teknologi screenshot yang memudahkan memotret layar hanya dengan satu sentuhan dan  screenshot yang disimpan bisa beserta dengan URL-nya, jadi gampang juga kalau mau bagi ke yang lain.



Selain suaranya yang jernih SHARP AQUOS Crystal juga menampilkan detail gambar yang sangat jernih dengan warna-warni indah yang alami. Wah bakal betah berkreasi di ponsel dan menshare di media sosial dong yah, jadi eksis dengan semangat dan kreasi tanpa batas.



Yang paling asik nih, bentuknya yang tipis, ramping, dan padat membuat saya gampang membawanya kemana-mana, bahkan cukup saya genggam saja. Jadi tidak bakal ketinggalan momen berharga deh.

Biar lebih tahu lengkap, ini ada spesifikasinya.



Menulis Review SHARP AQUOS berdasarkan artikel-artikel di internet saja sudah semangat begini, apalagi nanti kalau punya beneran yah. Pasti semangatnya tanpa batas, hahaha.

Wednesday, 22 July 2015

Pulang ke Rumah; Tempat Kebahagian yang Tak Pernah Habis

Gambar diambil dari Pinterest.com



“Kita pulangnya naik motor saja,” kata bapak tiba-tiba ketika menonton tayangan arus mudik disalah satu stasiun televisi.

Sepertinya bapak agak ragu bakal tidak mendapat angkutan umum atau tidak ingin berdesak-desakan di atas mobil seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya para supir memanfaatkan momen lebaran untuk menaikkan penumpang ke kendaraan mereka melebihi kapasitas mobil ditambah penambahan biaya.

“Yakin?” tanyaku sangsi, “itu bisa menempuh waktu tujuh sampai delapan jam,” lanjutku.

“Hitung-hitung kita mengukur apa dengan berjalannya waktu, kita ini semakin renta atau tegar.” Bapak menambah volume suara televisi sambil tersenyum jahil ke arahku.

Aku tiba-tiba mulai membayangkan panasnya matahari selama perjalanan dan pantat yang akan sakit. Tapi benar kata bapak, ini salah satu cara menguji kekuatan kami. Dulu sewaktu aku kecil, kami juga pernah mudik dengan cara seperti ini. Aku yang kecil saja sanggup, kenapa yang sudah besar seperti ini malah menyerah?

Tapi seperti itulah jiwa anak kecil, mereka melakukan sesuatu tanpa sibuk memikirkan macam-macam, asal dia merasa senang. Kita yang dewasa, belum apa-apa, pikirannya sudah macam-macam, seperti  memikirkan betapa panas matahari bisa merusak kulit, gagallah perawatan anak gadis.

Ini baru rencana mudik, pulang ke kampung halaman. Sebelum sebenar-benarnya pulang, rencana ini malah membuat saya pulang, pulang dalam artian mengingat dan kembali ke masa-masa kecil saya. Pulang ternyata juga bisa membuat kamu akhirnya bisa merindukan hal-hal yang dulu pernah kamu lakukan.

Dan, akhirnya aku pun setuju dengan usul bapak untuk mudik dengan mengandarai motor bersama.

***

Sambil memijit-mijit lehernya dan terseyum sumringa bapak berkata, “Wah ternyata bapak benar-benar sudah renta. Ini belum setengah perjalanan, badan sakit semua.”

Aku yang tetap memakai masker dan kaca mata tidak melepaskannya barang sedetik menjawab, “Badan renta, tapi jiwa muda sekali. Aku sampai tegang dibonceng, udah kayak anak ABG menyelip-nyelip kendaraan lain.”

“Biar cepet sampai, biar kulit anak bapak tidak gosong,” katanya sambil meperlihatkan wajah usilnya lagi, lalu melanjutkan, “biar cepat ketemu ibumu.”

“Huh, poin terakhir lebih unggul deh sepertinya,” godaku sambil memijit-mijit lutut yang nyeri.

“Karena yang pertama itu memang indah, tapi yang terakhirlah yang lebih baik, indah, segala-galanya.”

Dan kami tertawa, lelah hilang perlahan.

Aku dan bapak memang tinggal di kota yang berbeda dengan ibu dan adikku. Aturan pemerintah baru membuat bapak pindah ke kota lain. Ibu baru saja mengunjungi kami dan pulang lagi mengurus adikku yang masih bersekolah. Sebab itulah kami pulang kampung. Jadi istilahnya kami ini merantau. Saya selalu membaca kata-kata, merantaulah agar kamu tahu siapa yang kamu rindukan. Yah, seperti aku dan bapak, kami benar-benar tahu siapa yang kami rindukan, maka kami pulang.
Aku mau menambahkan, merantaulah agar kamu tahu juga siapa yang merindukan kamu. Ibu sudah beberapa kali menelepon, menanyakan sudah sampai di mana, menyuruh bapak untuk tetap hati-hati. Yah, kami pun tahu bahwa ada yang benar-benar merindukan kami, maka kami pulang.

Rindu, bukankah obatnya hanyalah temu?

***

Bau masakan ibu menyambut kedatangan kami. Dari luar, asap-asap dari tungku sudah terlihat. Dua hari menjelang lebaran membuat aktivitas di dapur sangat sibuk. Suara khas ibu yang terdengar dari dapur tiba-tiba melenyapkan rasa capai berjam-jam duduk di atas motor, ditambah adik-adik yang mulai berdatangan dan saling berebut ingin bercerita. Aku sering bertanya-tanya, rindu itu apa, kini aku tahu rindu itu yah, suara ibu, suara adik-adik, bau masakan ibu, suasana rumah, bahkan seprai yang kamu gunakan sebelum di kamar tidurmu sebelum kamu merantau. Itu semua disingkat menjadi sebuah kata yaitu rindu. Rindu, semua hal yang ingin kamu rasakan kembali. Sesuatu yang baru kamu rasakan ketika kamu pergi, dan pulang adalah salah satu cara untuk merasakannya kembali.

Aku tertegun sebentar, rumah memang adalah tempat di mana kamu mendapatkan segala kebahagiaan tanpa takut merasa habis. Aku mengatakan seperti ini karena beberapa waktu lalu aku sempat pulang dan hanya sebentar, sesampai di perantauan dan tinggal sendiri aku tidak bisa membendung rasa rindu dan mulai menagis. Ah, betapa amunisi pertemuan yang kubawa pulang cepat sekali habis, rindu begitu rakus menggerogotinya, atau hanya aku yang begitu cengeng? Dan sekarang, aku disni lagi dan tertawa-tawa. Walau kebahagiaan itu tidak perlu dicari tapi diciptakan, aku bisa mengatakan betapa mudahnya menemukan kebahagiaan di rumah tanpa perlu kau cari, kebahagiaan itu akan tercipta dengan sendirinya.

***

“Bu, si Riri ke mana sih?” tanyaku setelah mencari adikku ke segala penjuru rumah.

“Biasalah adikmu itu, selalu jarang di rumah. Lebih suka berada di rumah temannya, paling nanti tengah malam baru pulang.”

Ibu menjawab sambil mengeluarkan serangan protesnya.

“Kamu makan saja duluan, keburu lapar kalau menunggu adikmu itu,” lanjutnya sambil membawa mangkuk berisi kari ayam dan sepiring ketupat yang sudah diiris kecil-kecil.

“Biar sajalah, bu. Nanti kalau dia sudah sekolah di luar kota dia bakal tahu yang namanya waktu untuk keluarga itu juga penting,” kataku sambil menyendok kari ayam ke piringku.

Dulu juga aku seperti itu. Lebih banyak menghabiskan waktu kumpul bersama teman-teman, jalan-jalan atau hanya sekadar bercerita tidak penting, mungkin karena kita pikir lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bertemu dengan keluarga setiap hari. Tapi begiitu sekolah di luar kota, kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dan kemudian merindukan sosok yang ada di rumah. Kita memang seringkali baru menyadari betapa pentingnya sesuatu jika sudah tidak ada di dekat kita. Sekarang, jika ada liburan seperti ini dan berada di kampung halaman, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalaupun ada janjian dengan teman, yah seperlunya saja.

***

Liburan telah usai. Salah satu tujuan pulang untuk mengobati rasa rindu telah terbayarkan. Kini aku juga akan pulang, pulang kali ini untuk meraih masa depan. Berat rasanya meninggalkan rumah di kampung tetapi rumah yang lain ikut menunggu. Bukankah sudah kubilang, pulang ke rumah adalah cara untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa takut kehabisan? Salah satu cara untuk terus merasa bahagia juga adalah menciptakan bahagia itu sendiri. Nah, cobalah untuk menciptakan tempat dimana pun sebagai rumahmu, dan kamu tidak akan pernah merasa ragu untuk pulang dan tetap berbahagia.

“Hati-hati di jalan, jangan lupa menelepon kalau sudah sampai,” pesan ibu sambil menciumku.



Tuesday, 31 March 2015

Aku, Kopi dan Potensinya Menjadi Kembang Api

Gambar diambil dari Pinterest.com


“Sejak kapan kamu minum kopi?” tanya Lia yang dengan seksama memperhatikan gelas yang yang ada di mejaku.

Aku mendekatkan tubuhku ke arahnya, “Sejak cowok yang ada di sudut sana hadir,” kataku sambil berbisik.

Lia yang menampakkan gesture ingin membalikkan badan langsung kucegah, “Jangan balik badan, nanti terlalu kentara. Kamu pindah duduk di sampingku saja.”

Dengan patuh Lia berpindah duduk.

“Cakep. Tapi tetap saja kamu tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini. Kamu bisa tidak tidur sampai pagi gara-gara kopi. Lagian tidak baik pulang terlalu malam.” Lia menasihati bak ibu-ibu.
“Iya Lia, aku ke sini juga tidak tiap hari kok. Tapi kalau aku ke sini dia pasti ada.”
“Pulang yuk, sudah jam 10!”

Lia menarik tanganku yang masih memegang gelas kopiku untuk dihabiskan.

***

Benar kata Lia, salah besar beberapa bulan ini aku memesan kopi. Tidurku tidak pernah stabil, hampir terlambat sampai di kantor. Tapi yang aneh, aku tidak pernah menyesal ini terjadi, yang ada di kepalaku hanya timbul perasaan bahagia. Bahagia berlama-lama terjaga di malam hari dan memikirkannya, walau besok akan terkantuk-kantuk di kantor. Apa memang kehebatan menyukai seseorang selain membuatmu bodoh?

Beberapa bulan belakangan tiba-tiba lelaki itu hadir hampir disetiap kunjunganku ke kafe itu. Dia ramah kepada setiap pelayan, juga kepada pengunjung lainnya. Meski aku belum pernah berbincang dengannya. Sepertinya orang-orang di kafe itu mengenalnya dengan baik. Berarti dia adalah pelanggan setia. Sejauh ini keramahannyalah yang membuatku tertarik. Dia selalu sendiri. Tidak, tidak, dia selalu ditemani laptop, buku dan kopinya.

Apa pernah membaca tulisan, Pertama, tentu saja kita harus meliht jauh kedalam diri kita sendiri. Apa yang paling kita agungkan dalam hidup kita? Apakah kesetiaan? Apakah kekayaan? Apakah Ambisi, Apakah laku seseorang? Apakah rupa seseorang? Nah setelah kau tentukan satu hal yang paling utama, tentukan hal-hal lain yang menjadi peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya.”

Dalam hal ini, tentu kamu bisa menebak hal yang paling utama menurutku.

***

“Boleh duduk di sini?”

Ada suara berat mengangetkanku. Aku mendongak dari buku bacaanku dan wajahnya membuat jantungku seperti dipenuhi berpuluh-puluh kembang api. Apa kopi tadi punya potensi berubah menjadi kembang api?

“Boleh, silakan.”

Dengan kikuk aku kembali kebacaanku. Lebih tepatnya berpura-pura. Kembang api di jantungku tidak berhenti meletus. Lalu aku harus bagaimana? Setiap kedatanganku di sini yang kusiapkan hanyalah mental untuk melihatnya dari jauh, bukan sedekat ini.

“Kenapa tidak pernah pesan jus alpukan atau susu coklat lagi?”

Ditengah usahaku mematikan kembang api fiktifku, dia bersuara lagi. Dan itu sama sekali tidak mematikan si kembang api. Kenapa dia tahu kalau sebelumnya dua minuman itu yang menjadi andalanku? Karena penasaran kuturunkan bukuku.

Sebelum aku membuka mulut, dia mulai berbicara lagi.

“Sebelumnya aku selalu duduk di belakangmu dan menghapal apa yang kamu lakukan setiap datang ke sini. Tapi aku tidak mau hanya mengenal punggungmu saja, maka aku memilih pindah tempat. Beberapa bulan ini, kamu selalu pulang malam dan menyuruh temanmu untuk menjemput, kan?”
“Wah, aku pikir aku tidak bisa berkata-kata lagi.”
“Dan aku pikir, semenjak aku pindah tempat duduk kamu mulai memperhatikanku. Sepertinya aku tidak perlu membuang tenaga untuk meyakinkanmu.”

Kali ini perutku yang dipenuhi kembang api. Kali ini aku yakin kopi punya potensi ini.

“Sudah, pesan jus alpukat atau susu coklat lagi saja. Dan aku akan mengantarmu pulang jika kau sudah mengantuk.”
 "Dan ingat, kamu harus menjadi dirimu sendiri saat menyukai orang lain, bagaimanapun besarnya rasa sukamu terhadap apa yang menjadi kebiasaanya," tambahnya.

Jantung dan perutku memproduksi banyak kembang api. Dan seperti perayaan-perayaan yang disemarakkan oleh kembang api, senyumku sedikit demi sedikit merekah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam #kelasmaccamenulismaret

Tuesday, 3 December 2013

Gara-Gara Lobaloid!




LOBALOID BOOK SALE

DISC. ALL ITEM

ALL BOOK YOU NEED, HERE!

Until your money empty!


Begitu selebaran yang didapatkan Irna selagi makan siang di luar kantornya. Disebelahnya terdengar si nyonyah -sebutan untuk bosnya- menyerocos tiada henti. Lebih banyak mengocehnya dibanding mengunyah, sampai-sampai Irna kenyang duluan. 

“Seminggu saja makan bersama si nyonyah, program dietku untuk natalan nanti pasti sukses,” ucap Irna dalam hati dengan wajah sendu namun hati riang.

Sementara si nyonyah sibuk membuka lembaran-lembaran hasil audit, Irna malah asyik menyebar luaskan berita book sale tersebut ke teman-temannya sesama pecinta buku. Terutama kepada kedua sepupunya yang melulu minta ditanggung biaya bukunya oleh Irna, yaitu Dhila dan Lia. Sepakat, akhirnya mereka janjian untuk pergi memborong buku keesokan harinya.
___

Dhila, Lia, kalian pergi duluan deh. Nanti aku nyusul. Si nyonyah ribet nih √

Begitu pesan yang dikirim Irna ke kedua sepupunya melalui whatsapp. Sementara itu, Irna memutar otak, bagaimana cara mengelabui si nyonyah agar bisa sesegera mungkin keluar dari kantor. Disela lamunannya ponselnya berbunyi, pesan dari Dhila.

Yah, Kak Ir. Aku pergi sendiri dong. Lia berangkat dari kampusnya. Kamu tahu sendiri kan kak, aku buta jalan :( √ 

Jangan bawel, belajar sendiri. Nggak apa-apa tersesat di jalan, asal jangan di hatinya aja.

Kak Ir….. :(

Irna mengacuhkan pesan Dhila dan berharap ada pangeran yang segera datang menemukannya sambil membawa peta. 
 
“Ah, aku taruh saja tas ini di resepsionis, nanti aku pura-pura ke toilet. Nah, si nyonyah pasti nggak bakal sadar kalau aku sudah kabur. Dengan adanya tas yang kusimpan terlebih dahulu, kepergianku tentu tidak mencolok,” irna lagi-lagi berkata kepada dirinya sendiri, kali ini dia mendapatkan ide cemerlang.
___

Dhila kelabakan di kamarnya sehabis menerima pesan dari sepupunya yang semena-mena itu. Mau melawan, takut nanti biaya perburuan bukunya di book sale terancam ditiadakan. Maka dengan berbesar hati, dia mencoba peruntungannya menyambangi tempat book sale tersebut diadakan.
___

Di kantin kampusnya Lia membalas pesan dari sepupunya Irna.

Okeh, Kak Ir. Aku berangkstnua dari kampus yah. Mungkon agsk sorwan.

Lia baru menyadari ketika tanda centang di ponselnya terbentuk. Ada banyak typo disana. Sudah beberapa kali dia mengajar jempolnya untuk tidak typo, tapi tetap saja jempolnya membangkang. Dia sudah akan menduga ditertawai habis-habisan oleh sepupunya itu.

Lia, typomu itu loh. *Puk-puk jempolnya pake stick golf

Lia yang menerima pesan itu hanya manyun. Lebih memilih untuk tidak membalsnya, dikarenakan akan takut typo untuk kesekian kalinya.

Setelah membayar makanannya, Lia pun bergegas menuju tempat book sale.

***
Di belahan tempat lainnya. Kaum lelaki yang pecinta buku juga sedang rusuh. Olih yang merupakan teman dari Irna menerima pesan akan book sale darinya dan mengajak dua temannya yang walaupun lelaki ternyata menyukai diskonan melebihi kaum perempuan.

Mamet, besok lo nggak ada kerjaan kan? Kita ke book sale yang diadakan Lobaloid yuk. Gue juga sudah ngajak Mas Alan. √


Yoi, gue lagi kosong kok. Emang, Mas Alan udah setuju mau ikut? √


Mas Alan mah, diajak kemana aja okeh √


Asal jangan ke masa lalu aja √


Hahaha √

Begitulah penggalan chat mereka. Mereka pun berangkat dari tempat masing-masing. Sebenarnya, Olih berharap Mamet berniat mengajaknya untuk pergi bersama menaiki vespanya. Tetapi, Mamet ada hal lain yang harus dikerjakannya terlebih dahulu. Padahal, jauh didalam lubuk hatinya dia sedang was-was. Kalau-kalau sampai dia tidak tahu jalan. Memang lelaki terkadang sering melupakan hal-hal kecil, tapi tidak seperti Olih, sampai-sampai jalan pun dia lupa. Asal jangan lupa cari pacar aja, pernah salah seorang temannya berceletuk seperti itu.
___

Mamet bersiul-siul sambil menenteng helmnya menuju halaman depan, Creamy – nama vespa kesayangannya – telah lama menunggu. Siap mengantarkan Tuannya. Dia sengaja berbohong kepada Olih, berharap temannya yang satu itu bisa mengahapal jalan, bukannya menghapal kejadian-kejadian masa lalunya saja. Dia hanya ada perlu sebentar di kampusnya, dan itu tidak memakan waktu lama seperti yang diutarakannya ke OLih.

Kini Mamet meluncur dengan gagahnya, dari earphone di telinganya mengalun lagu dari Siera Soetedjo, lagu kesukaannya. Hampir setiap dia mengendarai Creamy didengarkannya lagu itu.
___

Alan melirik jam dinding di kamarnya. Seperti kebiasaannya, dia menunggu lima menit sebelum waktu yang diancang-ancangnya keluar rumah, untuk mandi. Yah, waktu mandinya cuma lima menit. Kadang juga tidak mandi, jika air tidak mengalir. Tidak banyak ritual yang dia lakukan, dia mengambil jaket kebesarannya dan tas salempang berwarna merah – yang berlogokan arsenal, yang dia dapatkan dari membership ais – andalannya, kemudian berangkat.

***
Menurutmu, adakah yang kebetulan di muka bumi ini? Sepertinya tidak ada. Semua sudah diatur dengan apiknya oleh Tuhan. Pertemuan-pertemuan yang tidak disangka, tentulah ada maksud dikemudian hari. Entah nanti untuk kita kenang kembali, atau malah terlupakan begitu saja. Sepekah apakah kita memaknai sesuatu yang seringkali disebut kebetulan itu?

Mamet yang telah menyelesaikan urusannya, segera meluncur lagi dengan vespa kesayangannya. Dia terus melaju, kembali mendendangkan lagu kesukaannya sambil membayangkan ada gadis cantik yang berada diboncengannya saat ini. Saking asyiknya dia, sampai tidak melihat ada seorang perempuan yang hendak menyebrang jalan.

Perempuan itu adalah Lia. Kala itu dia sedang mendengarkan lagu rock kesayangannya pula, sampai tidak mendengar suara vespa yang katanya romantis itu. Entah dari segi apa suara vespa yang ribut itu dibilangnya romantis.

Mamet tiba-tiba mengerem vespanya dan hamper terjatuh. Lia berteriak histeris. Ban depan Creamy nyaris saja menyentuh lutut Lia. Alih-alih memarahi Mamet seperti yang biasa dilakukan perempuan-perempuan ketika hampir tetabrak, Lia malah tersenyum berbahagia. Dia menghampiri Mamet yang kini sudah salah tinggah. Antara merasa takut kalau-kalau Lia lecet dan merasa heran karena dihampiri dengan senyum sumringah.

“Kak, vespanya keren. Aku suka vespa loh. Aku Lia,” kata Lia ceria sambil mengulurkan tangan.
“Eh, iya. Saya Mamet,” balas Mamet masih dengan tampang tidak mengertinya.
“Namanya Creamy. Eh, kamu mau kemana? Kalau searah, yuk kita barengan aja. Hitung-hitung minta maaf karena nyaris menabrakmu,” ajak Mamet.

Lia tampak menimang-nimang. Sebagai perempuan, tentulah harus jual mahal sedikit, apalagi dengan orang baru dikenalnya. Tapi, raut wajahnya tidak bisa berbohong, dia ingin sekali dibonceng dengan vespa, itu adalah cita-citanya sejak SMA.

“Ayok, naik aja.”
“Baiklah. Terima kasih kak.”
____

“Aduh dimana sih ini?” gerutu Dhila sambil memijit-mijit betisnya yang kesakitan. Kala itu sudah habis keberaniannya untuk melanjutkan perjalanan. Dia berhenti disebuah halte. Dia mengibas-ngibaskan brosur book sale karena tidak tahan panasnya matahari. Tanpa ditahunya, anak laki-laki disebelahnya juga tersesat. Olih yang melihat selebaran ditanganya, kini menghampirinya.

“Mau ke book sale juga?”
“Iya,” jawab Dhila cuek karena sudah takut tidak mendapatkan tempat book sale itu. Mana ponselnya mati total.
“Aku juga mau kesana tapi tersesat. Kalau mau, kita bisa cari alamatnya sama-sama,” ajak Olih ramah dan penuh ketulusan. Bukan apanya, dia juga tengah dirundung ketakutan.

Dhila tidak punya banyak waktu untuk memikirkan ajakan cowok yang baru saja ditemuinya itu. Setelah berkenalan, merekapun berangkat. Kembali mengadu keberanian.
____

Irna sudah berada di book sale. Menunggu dengan penuh kekhawatiran akan kedua sepupunya yang belum juga tiba. Terlebih kepada Dhila yang buta jalan. Semua salahnya, dia yang mengajak, dia pulalah yang menelantarkan.

Alan juga kini sudah bertengger gagah di buku-buku kesukaannya diapitnya buku dari karangan Nh Dini, Virginia wolf, Ernest Hemigway dan Haruki Murakami. Dilihatnya jam di ponselnya, sudah 30 menit dia tiba, tapi kedua temannya belum.

Selang beberapa menit datanglah Mamet dan Lia. Mamet langsung menemukan Alan yang sudah dihafalnya akan memakai celana pendek dengan rambut kusut tak disisir. Mamet dan Alan yang berisik membuat Irna menoleh dan mendapatkan Lia dengan pipi yang masih memerah. Merekapun saling berkenalan.

Lalu terdengar suara Dhila yang khas, cempreng dan besar meneriaki sepupunya yang sudah menelantarkannya. Dengan bersimbah keringat, Olih dan Dhila menghampiri kerumunan Mamet dan ikut berkenalan.

“Akhirnya bisa sampai juga kan Dhil?” Tanya Irna sambil menahan tawa.
“Tuh kan Lih, lo juga bisa jadi pahlawan yang menemukan jalannya,” lanjut Alan sambil meninju bahu Olih.

Seketika suasana akrab menyelimuti mereka.

Tiba-tiba terdengar dari pengeras suara, seorang cewek mengumumkan barang siapa saja yang ingin bergabung di Lobaloid harap segera mengisi formulir. Mereka serasa dihipnotis oleh suara yang aduhai itu, suara yang akhirnya mereka kenal dimiliki oleh cewek bernama Iyut. Mereka semua saling pandang dan sama-sama melangkah menuju sumber suara untuk mendaftarkan diri.

Hubungan mereka berlanjut di grup whatsapp Lobaloid.

Mamet kini sering pergi ke pameran vespa bersama Lia. Olih menghadiahkan Dhila sebuah peta. Irna masih sibuk berurusan dengan Nyonyah. Alan sibuk menghabiskan bonus teleponnya untuk menelpon teman-teman segrup akibat tak ada nomor telepon yang wajib diteleponnya setiap waktu.


*Cerita ini hanya karangan saya semata. Untuk sekadar lucu-lucuan. harap untuk tidak tersinggung :p
**Cerita ini diikutsertakan dalam Lelang Buku Bayar Karya di Grup Lobaloid