Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts
Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts

Wednesday, 22 July 2015

Pulang ke Rumah; Tempat Kebahagian yang Tak Pernah Habis

Gambar diambil dari Pinterest.com



“Kita pulangnya naik motor saja,” kata bapak tiba-tiba ketika menonton tayangan arus mudik disalah satu stasiun televisi.

Sepertinya bapak agak ragu bakal tidak mendapat angkutan umum atau tidak ingin berdesak-desakan di atas mobil seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya para supir memanfaatkan momen lebaran untuk menaikkan penumpang ke kendaraan mereka melebihi kapasitas mobil ditambah penambahan biaya.

“Yakin?” tanyaku sangsi, “itu bisa menempuh waktu tujuh sampai delapan jam,” lanjutku.

“Hitung-hitung kita mengukur apa dengan berjalannya waktu, kita ini semakin renta atau tegar.” Bapak menambah volume suara televisi sambil tersenyum jahil ke arahku.

Aku tiba-tiba mulai membayangkan panasnya matahari selama perjalanan dan pantat yang akan sakit. Tapi benar kata bapak, ini salah satu cara menguji kekuatan kami. Dulu sewaktu aku kecil, kami juga pernah mudik dengan cara seperti ini. Aku yang kecil saja sanggup, kenapa yang sudah besar seperti ini malah menyerah?

Tapi seperti itulah jiwa anak kecil, mereka melakukan sesuatu tanpa sibuk memikirkan macam-macam, asal dia merasa senang. Kita yang dewasa, belum apa-apa, pikirannya sudah macam-macam, seperti  memikirkan betapa panas matahari bisa merusak kulit, gagallah perawatan anak gadis.

Ini baru rencana mudik, pulang ke kampung halaman. Sebelum sebenar-benarnya pulang, rencana ini malah membuat saya pulang, pulang dalam artian mengingat dan kembali ke masa-masa kecil saya. Pulang ternyata juga bisa membuat kamu akhirnya bisa merindukan hal-hal yang dulu pernah kamu lakukan.

Dan, akhirnya aku pun setuju dengan usul bapak untuk mudik dengan mengandarai motor bersama.

***

Sambil memijit-mijit lehernya dan terseyum sumringa bapak berkata, “Wah ternyata bapak benar-benar sudah renta. Ini belum setengah perjalanan, badan sakit semua.”

Aku yang tetap memakai masker dan kaca mata tidak melepaskannya barang sedetik menjawab, “Badan renta, tapi jiwa muda sekali. Aku sampai tegang dibonceng, udah kayak anak ABG menyelip-nyelip kendaraan lain.”

“Biar cepet sampai, biar kulit anak bapak tidak gosong,” katanya sambil meperlihatkan wajah usilnya lagi, lalu melanjutkan, “biar cepat ketemu ibumu.”

“Huh, poin terakhir lebih unggul deh sepertinya,” godaku sambil memijit-mijit lutut yang nyeri.

“Karena yang pertama itu memang indah, tapi yang terakhirlah yang lebih baik, indah, segala-galanya.”

Dan kami tertawa, lelah hilang perlahan.

Aku dan bapak memang tinggal di kota yang berbeda dengan ibu dan adikku. Aturan pemerintah baru membuat bapak pindah ke kota lain. Ibu baru saja mengunjungi kami dan pulang lagi mengurus adikku yang masih bersekolah. Sebab itulah kami pulang kampung. Jadi istilahnya kami ini merantau. Saya selalu membaca kata-kata, merantaulah agar kamu tahu siapa yang kamu rindukan. Yah, seperti aku dan bapak, kami benar-benar tahu siapa yang kami rindukan, maka kami pulang.
Aku mau menambahkan, merantaulah agar kamu tahu juga siapa yang merindukan kamu. Ibu sudah beberapa kali menelepon, menanyakan sudah sampai di mana, menyuruh bapak untuk tetap hati-hati. Yah, kami pun tahu bahwa ada yang benar-benar merindukan kami, maka kami pulang.

Rindu, bukankah obatnya hanyalah temu?

***

Bau masakan ibu menyambut kedatangan kami. Dari luar, asap-asap dari tungku sudah terlihat. Dua hari menjelang lebaran membuat aktivitas di dapur sangat sibuk. Suara khas ibu yang terdengar dari dapur tiba-tiba melenyapkan rasa capai berjam-jam duduk di atas motor, ditambah adik-adik yang mulai berdatangan dan saling berebut ingin bercerita. Aku sering bertanya-tanya, rindu itu apa, kini aku tahu rindu itu yah, suara ibu, suara adik-adik, bau masakan ibu, suasana rumah, bahkan seprai yang kamu gunakan sebelum di kamar tidurmu sebelum kamu merantau. Itu semua disingkat menjadi sebuah kata yaitu rindu. Rindu, semua hal yang ingin kamu rasakan kembali. Sesuatu yang baru kamu rasakan ketika kamu pergi, dan pulang adalah salah satu cara untuk merasakannya kembali.

Aku tertegun sebentar, rumah memang adalah tempat di mana kamu mendapatkan segala kebahagiaan tanpa takut merasa habis. Aku mengatakan seperti ini karena beberapa waktu lalu aku sempat pulang dan hanya sebentar, sesampai di perantauan dan tinggal sendiri aku tidak bisa membendung rasa rindu dan mulai menagis. Ah, betapa amunisi pertemuan yang kubawa pulang cepat sekali habis, rindu begitu rakus menggerogotinya, atau hanya aku yang begitu cengeng? Dan sekarang, aku disni lagi dan tertawa-tawa. Walau kebahagiaan itu tidak perlu dicari tapi diciptakan, aku bisa mengatakan betapa mudahnya menemukan kebahagiaan di rumah tanpa perlu kau cari, kebahagiaan itu akan tercipta dengan sendirinya.

***

“Bu, si Riri ke mana sih?” tanyaku setelah mencari adikku ke segala penjuru rumah.

“Biasalah adikmu itu, selalu jarang di rumah. Lebih suka berada di rumah temannya, paling nanti tengah malam baru pulang.”

Ibu menjawab sambil mengeluarkan serangan protesnya.

“Kamu makan saja duluan, keburu lapar kalau menunggu adikmu itu,” lanjutnya sambil membawa mangkuk berisi kari ayam dan sepiring ketupat yang sudah diiris kecil-kecil.

“Biar sajalah, bu. Nanti kalau dia sudah sekolah di luar kota dia bakal tahu yang namanya waktu untuk keluarga itu juga penting,” kataku sambil menyendok kari ayam ke piringku.

Dulu juga aku seperti itu. Lebih banyak menghabiskan waktu kumpul bersama teman-teman, jalan-jalan atau hanya sekadar bercerita tidak penting, mungkin karena kita pikir lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bertemu dengan keluarga setiap hari. Tapi begiitu sekolah di luar kota, kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dan kemudian merindukan sosok yang ada di rumah. Kita memang seringkali baru menyadari betapa pentingnya sesuatu jika sudah tidak ada di dekat kita. Sekarang, jika ada liburan seperti ini dan berada di kampung halaman, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kalaupun ada janjian dengan teman, yah seperlunya saja.

***

Liburan telah usai. Salah satu tujuan pulang untuk mengobati rasa rindu telah terbayarkan. Kini aku juga akan pulang, pulang kali ini untuk meraih masa depan. Berat rasanya meninggalkan rumah di kampung tetapi rumah yang lain ikut menunggu. Bukankah sudah kubilang, pulang ke rumah adalah cara untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa takut kehabisan? Salah satu cara untuk terus merasa bahagia juga adalah menciptakan bahagia itu sendiri. Nah, cobalah untuk menciptakan tempat dimana pun sebagai rumahmu, dan kamu tidak akan pernah merasa ragu untuk pulang dan tetap berbahagia.

“Hati-hati di jalan, jangan lupa menelepon kalau sudah sampai,” pesan ibu sambil menciumku.



Tuesday, 31 March 2015

Aku, Kopi dan Potensinya Menjadi Kembang Api

Gambar diambil dari Pinterest.com


“Sejak kapan kamu minum kopi?” tanya Lia yang dengan seksama memperhatikan gelas yang yang ada di mejaku.

Aku mendekatkan tubuhku ke arahnya, “Sejak cowok yang ada di sudut sana hadir,” kataku sambil berbisik.

Lia yang menampakkan gesture ingin membalikkan badan langsung kucegah, “Jangan balik badan, nanti terlalu kentara. Kamu pindah duduk di sampingku saja.”

Dengan patuh Lia berpindah duduk.

“Cakep. Tapi tetap saja kamu tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini. Kamu bisa tidak tidur sampai pagi gara-gara kopi. Lagian tidak baik pulang terlalu malam.” Lia menasihati bak ibu-ibu.
“Iya Lia, aku ke sini juga tidak tiap hari kok. Tapi kalau aku ke sini dia pasti ada.”
“Pulang yuk, sudah jam 10!”

Lia menarik tanganku yang masih memegang gelas kopiku untuk dihabiskan.

***

Benar kata Lia, salah besar beberapa bulan ini aku memesan kopi. Tidurku tidak pernah stabil, hampir terlambat sampai di kantor. Tapi yang aneh, aku tidak pernah menyesal ini terjadi, yang ada di kepalaku hanya timbul perasaan bahagia. Bahagia berlama-lama terjaga di malam hari dan memikirkannya, walau besok akan terkantuk-kantuk di kantor. Apa memang kehebatan menyukai seseorang selain membuatmu bodoh?

Beberapa bulan belakangan tiba-tiba lelaki itu hadir hampir disetiap kunjunganku ke kafe itu. Dia ramah kepada setiap pelayan, juga kepada pengunjung lainnya. Meski aku belum pernah berbincang dengannya. Sepertinya orang-orang di kafe itu mengenalnya dengan baik. Berarti dia adalah pelanggan setia. Sejauh ini keramahannyalah yang membuatku tertarik. Dia selalu sendiri. Tidak, tidak, dia selalu ditemani laptop, buku dan kopinya.

Apa pernah membaca tulisan, Pertama, tentu saja kita harus meliht jauh kedalam diri kita sendiri. Apa yang paling kita agungkan dalam hidup kita? Apakah kesetiaan? Apakah kekayaan? Apakah Ambisi, Apakah laku seseorang? Apakah rupa seseorang? Nah setelah kau tentukan satu hal yang paling utama, tentukan hal-hal lain yang menjadi peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya.”

Dalam hal ini, tentu kamu bisa menebak hal yang paling utama menurutku.

***

“Boleh duduk di sini?”

Ada suara berat mengangetkanku. Aku mendongak dari buku bacaanku dan wajahnya membuat jantungku seperti dipenuhi berpuluh-puluh kembang api. Apa kopi tadi punya potensi berubah menjadi kembang api?

“Boleh, silakan.”

Dengan kikuk aku kembali kebacaanku. Lebih tepatnya berpura-pura. Kembang api di jantungku tidak berhenti meletus. Lalu aku harus bagaimana? Setiap kedatanganku di sini yang kusiapkan hanyalah mental untuk melihatnya dari jauh, bukan sedekat ini.

“Kenapa tidak pernah pesan jus alpukan atau susu coklat lagi?”

Ditengah usahaku mematikan kembang api fiktifku, dia bersuara lagi. Dan itu sama sekali tidak mematikan si kembang api. Kenapa dia tahu kalau sebelumnya dua minuman itu yang menjadi andalanku? Karena penasaran kuturunkan bukuku.

Sebelum aku membuka mulut, dia mulai berbicara lagi.

“Sebelumnya aku selalu duduk di belakangmu dan menghapal apa yang kamu lakukan setiap datang ke sini. Tapi aku tidak mau hanya mengenal punggungmu saja, maka aku memilih pindah tempat. Beberapa bulan ini, kamu selalu pulang malam dan menyuruh temanmu untuk menjemput, kan?”
“Wah, aku pikir aku tidak bisa berkata-kata lagi.”
“Dan aku pikir, semenjak aku pindah tempat duduk kamu mulai memperhatikanku. Sepertinya aku tidak perlu membuang tenaga untuk meyakinkanmu.”

Kali ini perutku yang dipenuhi kembang api. Kali ini aku yakin kopi punya potensi ini.

“Sudah, pesan jus alpukat atau susu coklat lagi saja. Dan aku akan mengantarmu pulang jika kau sudah mengantuk.”
 "Dan ingat, kamu harus menjadi dirimu sendiri saat menyukai orang lain, bagaimanapun besarnya rasa sukamu terhadap apa yang menjadi kebiasaanya," tambahnya.

Jantung dan perutku memproduksi banyak kembang api. Dan seperti perayaan-perayaan yang disemarakkan oleh kembang api, senyumku sedikit demi sedikit merekah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam #kelasmaccamenulismaret

Friday, 28 November 2014

Ini Bisa Jadi Semacam Cerita Karena Kopi


Mungkin, entah beberapa tahun nanti, kopi bisa dijadikan sebagai bahan perekam sejarah. Setidaknya untuk penggemar kopi, untuk diri saya sendiri.
Di teras rumah, saat semua orang menyesap teh yang asapnya masih mengepul, paman saya mengabsen keponakannya satu per satu dan berhenti agak lama ketika nama saya diucapnya. Dari dalam saya dengar beliau berkata, “Dhani mana?” 

“Dia lagi bikin kopi, semoga saja persediaan es batu cukup untuk mendinginkan kopinya,” jawab tante saya mewakili.

“Heran, tidak pagi, tidak sore dia selalu membuat kopi dengan cangkirnya penuh es batu. Tidak kasihan dia sama hidung kecilnya yang mudah sekali terkena flu,” lanjut tante saya.

Saya keluar sambil mengaduk kopi. Terdengar suara sendok, bibir gelas dan es batu beradu. Dengan penuh khidmat saya menyeruput kopi saya.

Entah di mana saya pernah membaca, atau sekadar mendengar katanya kopi panas itu seperti cinta. Kalau langsung diseruput bakal berbahaya, bakal cepat habis, kalau dibiarkan nanti jadi dingin. Tapi itu tidak bakal menjadi masalah buat saya, toh kopi saya dari awal mulanya dingin. Saya jadi bisa menikmati cinta tanpa takut-takut. Hahaha.

“Pernah juga dia mencoba bersembunyi menyeduh kopi andalannya itu, tengah malam pula,” sambung bapak saya.

“Dikiranya dia mampu menyembunyikan aroma kopi, dasar anak bandel. Mungkin juga ini ulah ibunya, sewaktu mengandung dia, ibunya selalu ngemil kopi” lanjutnya.

Ditengah-tengah malam, bukan untuk menghalau kelopak saya untuk memejam, kelopak saya tidak pernah akur dengan kopi. Melainkan menemani lembar-lembar buku yang sedang saya tamatkan. Malam sewaktu bapak saya menegur itu saya jadi tertawa terbahak-bahak. Sepertinya saya harus memperbaharui peribahasa lama. Benar, percuma membuat kopi sembunyi-sembunyi, toh kecium juga.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti event cerita #dibaliksecangkirkopi



Dhani Ramadhani
https://www.facebook.com/danne.ramadhanie
https://twitter.com/DhaniRamadhani

Tuesday, 30 September 2014

Pada Gigi Kutemukan Jodohku



Gambar diambil di sini

“Nan, Nan, Nanda!”

Aku terhenyak dan menoleh kearah suara Rima, tampangnya sudah kusut.

“Kenapa melamun sih? Lihat tuh es batu di kopimu sudah mencair, nanti tidak manis lagi loh! Gimana mau dapat jodoh kalau kerjamu cuma melamun.”

“Semua kamu sangkut pautkan dengan jodoh,” balasku agak kesal sambil meneguk habis ice caramel latteku dan sukses membuat gigiku ngilu. Aku lalu mengelus-elus pipiku untuk meredahkannya. Entah itu ajaran dari mana tapi sukses.

“Nan, tau mitos-mitos tentang gigi gak?” pertanyaan Rima sukses membuat rasa ngilu di gigiku benar-benar hilang.
“Kamu kayak nenek-nenek ih, percayanya sama mitos-mitos. Gak tahu aku.”
“Kemarin gigi aku tanggal. Masa sudah tua begini baru tanggal?”
“Ya sudah, sembunyikan saja di bawah bantal. Siapa tahu peri gigi menggantinya dengan jodoh,” kataku asal.
“Benar juga.”

Aku menatap Rima dengan mata membelalak. Dan dia membalasnya dengan lidah terjulur sambil tertawa terbahak-bahak.

***

Aku duduk sendiri di sudut kafe sambil terus memutar sendok minumanku, membuat es batu yang terdapat di dalamnya beradu dengan pinggiran-pinggiran gelas. Aku tidak pernah merasa sekacau ini. Sebelum laki-laki yang diam-diam kuperhatikan itu benar-benar masuk ke dalam hidupku. Sudah tiga hari ini perutku hanya diisi kopi, terlihat jelas efeknya pada mataku yang sudah mirip pengantin bercelak tebal yang menangis karena ditinggal pergi calon mempelai prianya. Kacau bukan saja berarti kamu tengah gundah gulana atau bermuram durja, terlalu bahagia dan bersemangat tanpa bisa berkata-kata juga bisa membuat perasaan kacau. Aku sama sekali tidak bernafsu saat melihat makanan, perutku selalu terasa penuh. Diam-diam aku percaya isinya adalah jutaan kupu-kupu.

“Nanda!”

Rima datang dengan bermaksud mengagetkanku. Tapi aku hanya menoleh sekilas lalu kembali mengaduk-aduk kopiku.

“Lagi-lagi kamu melamun, nanti kesambet….”
“Jodoh?” belum lagi Rima menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotongnya. Aku hapal sekali tabiat anak ini, dimana dan kapan pun itu, yang selalu dibahasnya adalah jodoh.

Dia menatapku lekat-lekat. Kepalanya pasti penuh tanda tanya.

“Bulan depan aku menikah.”

Rima yang tadinya cuma bisa melongo kini menyambar gelasku dan meneguknya hingga tandas.

“Nanda, selamat yah,” katanya sambil berdiri kemudian memelukku dari belakang, “aku aja yang pacaran tiga tahun lebih belum dilamar-lamar,” sambungnya sambil kembali ke tempat duduknya. Meskipun yang dikatakannya adalah hal yang sama sekali tidak disukainya dia tersenyum tulus.

“Ini semua gara-gara gigi.”
“Gigi?” Tanya Rima memperjelas.
“Dan juga mitos.”
“Mitos?”
“Kamu ini kenapa sih?” aku mulai sewot.

****

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Hahaha.”

Kami tertawa terbahak-bahak di depan minuman kami yang hampir habis. Aku menatap wajah lelaki yang ada di sampingku, lelaki yang bertahun-tahun aku perhatikan diam-diam dan tanpa pernah berhasil membuatnya dekat, sewaktu itu.

“Jadi, Arif, kamu cuma mengarang mitos tentang gigi itu ke Nanda?” Tanya Rima setelah tawanya reda.

Laki-laki yang bernama Arif, yang beberapa bulan sudah menjadi suamiku itu menatapku dengan senyum yang cuma bisa diartikan oleh aku sendiri. Dia memicingkan matanya. Mata yang katanya tidak pernah berhenti mengawasiku bertahun-tahun lamanya. Ternyata selama ini kami sama-sama bertahan. Bertahan dalam diam. Sama-sama mencinta, mencinta dalam diam.

Tiba-tiba kulihat Rima memegang pipinya dan sedikit meringis.

“Gigi-gigiku tiba-tiba sakit,” bisiknya kepadaku, “seperti ada sesuatu yang menariknya ke belakang,” lanjutnya tetap meringis sambil menutup mulutnya.

“Beberapa bulan yang lalu aku merasakan itu, dan itulah mitos yang dikatakan Arif, bahwa sebentar lagi jodohmu akan datang,” balasku membisikinya.

Rima mematung, aku tertawa.


Friday, 12 September 2014

Dreamcatched


Gambar diambil dari pinterst.com


Aku terbangun dengan rasa ingin buang air kecil yang masih bisa kutahan, maka aku memanjakan lagi sebentar tubuhku untuk tetap duduk diam di atas kasur gabusku. Ada perasaan yang tidak biasanya. Aku terbangun dengan tersenyum. Aku memimpikan seseorang. Sontak kubalikkan bantal dan tidur lagi sejenak. Begitu kata sepupuku jika kamu ingin dimimpikan kembali oleh orang yang kamu mimpikan. Kucoba-coba mengingat apa yang terjadi sambil menjepit lebih erat kedua pahaku. Rasa ingin buang air kecil sudah tidak bisa kutahan lagi.

Mandiku lebih lama dari biasanya, terbukti dengan kuku-kukuku yang sudah agak keunguan. Guyuran air yang lebih banyak dari biasanya ternyata manjur membuat otakku berpikir baik. Mimpiku semakin jelas.

Sambil menempelkan bedak menggunakan spons ke wajahku, aku terus tersenyum sambil mengingat sosok yang menjadi mimpiku. Bisa-bisanya dia yang mendatangi tidurku. Aku bahkan berdandan lebih lama dari biasanya. Kubuktikan lagi dengan tergesa-gesanya aku keluar rumah setelah melirik arloji.

“Lebih ngebut dari biasanya yah, Pak!” seruku kepada sopir angkot yang malah dibalas dengan senyum samar.

Sesampai di kantor, mulai dari satpam yang memiliki kumis tipis sampai OB yang baru saja selesai mengelap kaca kusapa. Kuucapkan selamat pagi dengan intonasi yang cukup tinggi dan riang. Kernyitan dahi dan menganganya mulut orang-orang yang kusapa itu seolah mengucapkan, “tumben, mungkin lupa minum obat.” Hal tersebut juga membuatku mengedikkan bahu, tanda tidak mengerti pula perubahanku hari ini. 

Teman seruanganku, Ina, Rifka, Winda, Reski dan Tina tidak luput pula kuberikan sapaan manis. Mungkin lebih manis dari masing-masing minuman yang ada di meja mereka. Kulihat Winda menyikut lengan Ina yang kebetulan sedang mendiskusikan sesuatu. Rifka melemparkan kode mata ke Reski. Tina menggoyang-goyangkan bahunya.  Kali ini aku tidak peduli. Aku tahu keheranan mereka semua. Orang-orang di kantor ini mengenalku dengan perempuan yang jutek. Jangankan selamat pagi, senyumpun jarang. Mereka-mereka yang seruanganku ini sudah sangat mengerti dengan sifatku itu. “Bukan karena sombong, cuma aku ini pemalu,” belaku selalu kepada orang-orang baru.

Komputer yang sudah menyala sedari tadi tidak kusentuh-sentuh lagi. Aku menatapnya dengan pikiran tidak di tempatnya. Senyumku kusunggingkan lagi. Aku benar-benar lupa kapan terakhir merasa tersipu-sipu seperti ini. Kuingat sewaktu itu kami sedang berada di acara yang sama. Aku dengan khusyuknya membaca buku dan dia dengan seriusnya mencari objek untuk diabadikan kameranya. Poseku saat itu mungkin tertangkan oleh nalurinya dan memotretku. Bunyi kamera menyadarkanku. Dan kamipun berteman.

Aku terus memutar sisa-sisa ingatan mimpiku semalam, sampai tidak menyadari Winda sudah ada di sampingku. Menatapku dengan tatapan rasa ingin tahu yang amat besar.

“Kamu tampak lain hari ini, cerita dong,” pintanya sambil mengulurkan secangkir kopi yang menjadi minuman kesukaanku.

“Kamu juga lain,” balasku sambil mengangkat cangkir kopi pemberiannya.
“Anggap saja hadiah karena kamu sudah jadi anak yang baik sepagi ini.”

Aku memberikan arahan untuk mendekatkan kupingnya dengan mulutku. Aku membisikkan nama seseorang yang menjadi objek mimpiku. Sontak saja Winda terkekeh. Winda juga mengenalnya mengingat aku pergi bersama Winda di acara tempo hari. 

“Kau tahu, aku sempat mengabaikan gantungan pemberianmu sewaktu itu.”
“Jadi, kamu sudah menggantungnya?” mata Winda berbinar-binar karena berhasil membuatku percaya hal-hal konyol yang selalu dipercayainya.
“Iya, dreamcatcher itu memang bekerja dengan baik.”

Friday, 17 January 2014

Senja Sesugguhnya yang dijanjikan Sukab


Aku memalingkan pandanganku dari menatap langit siang yang tampak tidak seperti biasanya ke arah laki-laki yang menegurku barusan.
“Cepat habiskan kopinya, sebelum…”
“Dingin?” aku memotong cepat perkataannya, “kopiku selalu dingin, aku tidak pernah menyukai kopi panas. Kau tahu itu,” tambahku.
“Bukan. Habiskan kopinya sebelum turun hujan, kita harus lekas pulang,” katanya sambil mencubit hidungku. Dia selalu melakukan itu ketika mendapatiku sok tahu.

Langit siang ini mendung, penuh dengan awan hitam.Tapi, cahaya matahari nakal dan tetap saja ingin mengambil bagiannya. Ini nampaknya sesuatu yang terasa seperti saat tertentu senja kala, ketika cahaya berwarna misterius membangkitkan kenangan istimewa*. Ah, kenangan. Kita selalu menyebut sesuatu itu kenangan jika dia istimewa, dan memilih kata masa lalu ketika sesuatu itu sedikit suram.

“Boleh kita tinggal sebentar lagi? Duduklah!” tawarku. Dia pun menyetujui sambil tetap duduk kemudian menyandarkan bahunya di kursi.

Aku menyeruput kopiku yang masih setengah sambil kembali memandang langit siang yang tidak biasanya itu. Memoriku kembali terusik. Kenangan yang sempat tertidur kini terjaga. Ini seperti senja yang dijanjikannya. Dia selalu mengaku sebagai Sukab**, tokoh fiksi kesukaanku. Dia pergi dengan iming-iming mencarikanku senja terbaik. Tapi, aku bukan perempuan penyuka fiksi yang suka akan fana. Aku memilih mencari Sukab yang lain. Aku tidak akan menunggu sampai gila ditepian senja sambil menunggu laki-laki yang memilih pergi. Tidak.

Aku melirik sekilas laki-laki di hadapanku. Rupanya dia ikut terhanyut oleh pesona siang yang tidak biasanya itu. Dia juga laki-laki yang terobsesi menjadi Sukab. Tetapi dia tidak memilih untuk mencarikan senja terbaik, tetapi menjanjikan tetap menemani disetiap senja terindah.

“Sudah cukup melamunnya?” tegurnya halus.
“Ah, maaf. Aku seperti terhipnotis oleh siang yang tidak biasa ini,” kataku agak gugup karena sedikit kaget.
“Kita boleh tinggal beberapa saat lagi kalau mau.”
“Kamu juga sepertinya sudah terhipnotis yah?”
“Dulu, kita bertemu di taman saat senja. Kamu sedang menunggu seseorang mengirimkan senja, katamu.”

Aku ingat perkenalan kami dulu. Aku yang dengan damai duduk dibangku taman tiba-tiba terusik olehnya yang datang dengan nafas terengah-engah sambil memegang amplop berukuran sepuluh kali sepuluh sentimeter. Aku langsung mengira dia Sukab yang dikejar-kejar aparat karena mengerat senja. Belakangan kuketahui dia dikejar anjing.

“Yah, dia menjanjikanku senja terbaik. Kau tahu, senja yang hadir selalu indah, tapi buat apa kalau yang menemani tidak ada. Dan kamu akhirnya hadir.”
“Kau tahu, aku juga dulu sering menjanjikan seseorang senja. Tapi dia tidak suka senja yang biasa, dia mau senja yang terbaik, sempurna. Maka aku pergi. Sampai aku menemukanmu yang menyukai senja apa adanya.”
“Mungkin sekarang dia sudah gila akibat kelamaan menunggumu,” kataku pelan. Ada sedikit rasa aneh diperutku mendengar penuturannya. Maka kuteguk sekali lagi kopiku. Rasanya kini sedikit hambar. Es batu yang memenuhinya sudah mencair.
“Dia tidak menungguku. Dia menunggu senja yang sempurna.”
“Dia menunggumu membawanya.”
“Senja tidak selamanya sempurna, tapi selamanya akan indah. Aku memilih perempuan yang mau menghabiskan senja yang indah bersamaku. Bukan melulu yang menginginkan kesempurnaan.”

Aku tertegun menatapnya. Kau tahu, selalu ada kilatan kecil di mata seseorang ketika dia mengatakan sesuatu dengan penuh kesungguhan. Aku meneguk kopiku yang hambar hingga tandas.

“Ayo Alina**, kita pulang,” ajaknya sambil menggandeng tanganku.



*Kutipan dari Buku 1Q84 Jilid 3 Haruki Murakami
** Sukab dan Alina, tokoh fiksi dalam buku Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Sepotong Senja untuk Kekasihku