Friday, 20 July 2018

Perjalanan kASIh



Maa Sya Allah, Tabarakallah.

Menjadi ibu itu…. Speechless!

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Jadi dak tahu mau nulis dari mana, takutnya bakal kembali mewek. Jadi, saya mau menceritakan sedikit pengalaman saya setelah menjadi ibu yang mengASIhi. Mungkin bisa menjadi bahan biar bu-ibu baru dak merasa sendirian, karena ibu baru itu sensitifnya nambah lagi, butuh banget yang namanya teman dan perhatian. Karena mengASIhi juga butuh curahan kasih. Tapi entahlah, tulisan ini bisa dibilang motivasi atau malah curhan hati hihihi.

Apa yang kamu idam-idamkan, yang kamu inginkan belum tentu menjadi keinginan Allah SWT. Dialah Maha menentukan. Apa-apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana saya, saya selalu percaya rencana Allah yang jalan, termasuk lahiran secara SC dan tidak ada air susupun yang keluar. Selama hamil, saya selalu membayangkan bakalan bagaimana saya di kamar bersalin, bagaimana ASI saya penuh di kulkas. Tapi, nihil! Padahal semua ‘pelajaran’ dari orang-orang dijalanin semua.

Setelah keluar dari kamar pemulihan, seneng sekali bakal menyusui si dedek pikir saya. Tapi… air susunya tidak ada, dedeknya dak mau menyusui karena percuma, PDnya sakit sekali, omelan sana-sini terdengar, jahitan SC cenat cenut parah, dan mulailah saya frustasi.

Tapi saat dokter datang ngecek, saya ngeluh si dedek dak mau menyusu, beliau bilang,”Ibu kan baru jadi ibu, anaknya juga baru, jadi memang baru sama-sama belajar. Anak itu yah pasti cari ibunya, buat disusui. Jadi semangat, dak usah kasih susu formula.”

Bangkitlah kembali kepercayaan diri saya. Tapi lagi-lagi, dedeknya dak mau menyusu, nangis tiap beberapa menit karena kehausan. Itu terjadi sampai hari ketiga di RS, sampai nyerah akhirnya kasih susu formula ke dedek karena badannya sudah mulai menguning.

Sampai di rumah, mulai deh air mata mengucur tiada henti. Sampai di sini saya mulai memvonis kalau saya kena baby blues. Untunglah ada pak suami yang lengan panjang, bidang lebar dan hangat tubuhnya selalu ada menemani. Sungguh, itu obat dari segala resah. Pak suami juga yang paling gencar beliin sayur di pasar buat dimakan sebagai penambah ASI, resep dari nenek. Nanti saya tuliskan resepnya deh!

Ternyata lahiran dan punya bayi tidak seperti dalam benak saya. Dibenak saya, kalau dedeknya haus tinggal menyusui, kalau ngantuk tinggal bobok, kalau nangis tinggal digendong…. Hahaha kalau begitu yang namanya jadi ibu itu enak banget dan tidak ada belajar-belajarnya yaah. Justru kedua tahap itulah yang menjadi bahan belajar kita dalam menuju kedewasaan.

Terus dapat support juga dari kakak sepupu, yang benar-benar bikin saya bertekad harus bisa punya ASI banyak!

Selamat mengASIhi, ASI bakalan banyak kalau kita nyuruh dia banyak juga, yang tidak melahirkan saja bisa keluar ASInya apalagi yang melahirkan, semangat ya busui! Nikmat itu menyusui nah, apalagi kalau matanya melihat ke kita, tangannya sentuh-sentuh dada kita, kakinya goyang-goyang  tanda senang, wih nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan   Kak Nuni

Alhamdulillah, sekarang botol-botol ASI buat dedek penuh-penuh. Jadi dak khawatir ditinggal kerja. Jadi, bu-ibu yang baru dan akan mengASIhi, selalu semangat dan bener-bener berpikir untuk banyakin ASI, jangan lupa untuk selalu bahagia dan selalu berdoa kepada Allah SWT untuk selalu dicurahkan rahmatNya. Aamiin.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata’ala.”

Anjuran menyusui ada di dalam Al-Quran, di anugerahi air susu adalah bukti cinta Allah kepada semua bayi yang lahir, bu-ibu lanjutkan cinta Allah dengan semangat mengASIhi.

**
Resep Booster ASI:

Bahan:
Daun Katuk
Pepaya Muda
Kacang Hijau
Asam Mangga

Cara Membuat:
- Semua bahan di masak di dalam satu panci

Konsumsi sesering mungkin 😋

Saturday, 17 June 2017

BabakBaru; #1 Hijrah




Saya ingin membagikan perjalanan (hidup) saya selama setahun belakangan ini, setahun yang benar-benar banyak mengubah hidup saya dan ini adalah bagian yang benar-benar baru bagi saya. Semoga tulisan ini menjadi pengingat, penyembuh keresahan buat saya, dan bisa bermanfaat buat orang lain. Aamiin.

Suatu hari saya merenung, saya merasa hidup saya berputar disitu-situ saja, tidak menjadi baik dengan mengulangi kesalahan-kesalahan yang hati menjadi resah tetapi tetap dilakukan, lalu berpikir perbuatan saya inilah yang membuat Allah menjauhkan segala rahmatNya. Saya mencoba mengikhlaskan diri untuk memulai yang namanya hijrah, mendekatkan diri lagi kepada Allah, bukan sekadar beribadah. Saya memulainya dengan berjilbab syar’i.

Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab; 33:59)



Setelah memutuskan untuk berjilbab syar’i saya pikir, saya tidak lagi menjadi pusat perhatian. Tapi yang ada malah sebaliknya, setiap jalan pasti diliatin, dari atas sampai bawah. Bikin keki.

Semoga dibenak mereka mengatakan ini modis dan eksotis bukannya teroris atau fundamentalis. Hihi.

Saya lupa tepatnya kapan, tapi tiba-tiba di suatu hari keinginan saya untuk mulai memakai rok bulat sekali. Padahal yah, cuma punya satu rok. Jadilah rok itu beberapa kali dipakai, atasannya saja yang diganti-ganti. Sambil nyicil buat beli baru. Hihi. 

Sama halnya waktu belajar pakai qamish (gamis) nyicil, pakainya itu-itu aja sampai orang-orang pada hapal motifnya, letak bunganya di sebelah mana. Hehehe. Setidaknya itu menjadi usaha saya untuk berubah meski dalam keadaan yang (masih) terbatas. Meski di kepala saya masih dipenuhi dengan pikiran akan anggapan-anggapan orang lain tentang gak malu apa, pakaiannya itu melulu? 

Padahal dulu, kalau mau beli rok yang ada dipikiran cuma cantik apa nggak sih saya pakai rok? Astagfirullah, padahal pakaian seperti itulah yang seharusnya. Kita tidak boleh berpakaian menyerupai laki-laki seperti memakai celana.

Waktu itu yah, semua teman-teman pada sibuk ngomentarin, bahkan ada yang tidak percaya.
“Dhan, gak cocok ah pakai rok begitu.”
“Tambah kelihatan gede deh, Dhan.”
“Beneran sudah gak pakai celana?”
“Seriusan celananya sudah dihibahkan?”
“Cie jilbabnya panjang.”
”Kamu kok kayak ibu-ibu, haha.”
Dan masih banyak….

Tapi pemula seperti saya yang diperlukan hanya membuka hati, menutup telinga dan mata. Hehe. Kan, yang dicari ridha Allah, bukan ridha manusia. Meski (lagi-lagi) masih suka terpengaruh kalau mau ngumpul sama teman-teman yang pakaiannya update. Huhuhu. Memang yah, hijrah itu gampang, yang susah istqomahnya.

Yaa Muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik
Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agamaMu.

Saya yang hanya baru-baru ini dibukakan pintu hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah, masih jauh sekali kapasitasnya untuk berbicara panjang lebar mengenai berjilbab syar’i, saya hanya ingin membagikan pengalaman. Allah itu Maha Baik, baru niat saja Allah sudah membantu. Waktu itu tiba-tiba ingin masuk komunitas untuk mengisi waktu luang, tahunya saya dipertemukan dengan teman-teman sholeh-sholehah di sana, dan membuat saya banyak belajar dan jadi tambah semangat. Percaya selalu, Allah tidak akan pernah membuat kita sendiri.

Saya berharap setelah menulis ini teman-teman saya akhirnya mengerti atas keputusan saya, dan ikut men-support saya untuk ke depannya, membantu saya untuk menjadi istiqomah. Untuk teman-teman yang lebih dulu menetapkan pilihan, jangan sungkan untuk mengajak saya belajar lebih banyak lagi.

Dan, buat teman-teman yang baru ingin memulai, semangat yah! Keep hamasah! Awalnya memang susah, ragu itu ada, cemoohan pasti, tapi tetap ke niat awal yah bahwa semuanya dilakukan dengan mengharapkan ridha Allah SWT. Terus berikhtiar dan berdoa kepada Allah sang pemilik hati, dibantu luruskan niat dan menjaga hatinya karena Dialah yang Maha membolak-balikkan hati. Ingat, niat baik itu, disegerakan!


Dan tidak ada (sesuatu pun) yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhan-nya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata – QS. Al-Kahf; 55


Monday, 20 February 2017

Menjadi Relawan dan Bekerja Sama itu Candu



“Volunteers do not necessarily have the time; they just have the heart.” - Elizabeth Andrew


Relawan adalah orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya, dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus. Menjadi relawan itu berat, kamu harus paham betul apa yang membuat kamu memilih menjadi itu. Bukan lantas karena sekarang ini menjadi relawan itu keren.

Untuk menjadi relawan, kamu harus memilih untuk menjadi relawan sesuai dengan passion kamu karena ada macam-macam kegiatan relawan. Untuk menjadi relawan, poin utamanya adalah tanpa pamrih karena untuk memilih menjadi relawan berarti kamu merelakan diri dan waktumu bekerja dengan suka rela. Jika kamu telah menjadi relawan, maka kamu harus berkomitmen, bukan berarti karena ini hanya suka dan rela lantas kamu acuh tak acuh. Semua pekerjaan yang telah diambil adalah tanggung jawab.

Adapun menjadi relawan disebuah acara atau yayasan, selalu mengandalkan Team Work, kita tidak bekerja sendiri. Team work bisa diartikan sebagai kerja tim atau kerjasama, team work atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai  misi yang sudah disepakati sebelumnya untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Jadi, menjadi relawan selalu terkait dengan kerja sama. 

Ini adalah pengalaman saya selama menjadi relawan dan terlibat dengan team work.


“Kau yang disana yang berjiwa lemah, mendekat padaku dan raih tanganku karena kudisini pantang menyerah. Bersatu kita kuat, bersama kita hebat dan tak terkalahkan“

( Bondan Prakoso & Fade 2 Black )
 
Saya sendiri mulai menjadi volunteer sejak tahun 2013 dalam acara Makassar International Writer Festival (MIWF). Awalnya saya hanya datang ke acara tersebut sebagai penikmat karena saya memang senang dengan acara yang berbau literasi. Saya kemudian tertarik setelah merasa iri melihat orang-orang seusia saya berjalan mondar mandir mengatur acara sebesar ini. Saya juga ingin terlibat. Maka, MIWF selanjutnya saya mendaftarkan diri menjadi volunteer. Sebagai seorang yang introvert, masuk ke dalam dunia baru yang tidak seorangpun saya kenal menjadi momok tersendiri, tapi setelah bertemu dan berkenalan dengan volunteers yang lain, ketakutan itu menguap. Saya menemukan dunia saya. Saya langsung ditunjuk menjadi Penanggung Jawab ruangan selama acara berlangsung, dan sekali lagi, walau berkenalan belum lama dan menjadi tim, mereka semua sangat membantu saya. Dalam menangani sesutau, bukan hanya karena seberapa bisanya kamu, tetapi ada orang-orang keren yang selalu membantu. Saya kemudian menjadi volunteer MIWF di tahun selanjutnya, dan selanjutnya.

Tim Program MIWF





Ternyata, menjadi relawan itu candu. Membuat rindu. Dan saya ingin melakukannya lagi.

Saya kemudian bertemu dengan teman-teman hebat saya lainnya dalam Kelas Inspirasi (KI) dimana yang bergerak dalam bidang pendidikan. Kita menjadi relawan pengajar dan bersedia cuti sehari untuk terjun langsung ke sekolah-sekolah dasar dan berbagi inspirasi mengenai profesi kita dan juga menjadi relawan panitia yang bersedia kerja keras jauh-jauh hari sebelumnya sampai Kelas Inspirasi berjalan dengan sukses. Kalian harus percaya, hal baik akan mempertemukan orang-orang baik. Setelah bekerja keras mengurus KI, pergi ke pelosok-pelosok, mengajar, saya akhirnya sadar begitu banyak orang baik di sekitar kita yang tidak hanya mementingkan diri mereka sendiri. 


Menjadi relawan itu candu.

Di awal, saya menuliskan menjadi relawan itu berat. Tentu ada rasa capek setiap kali menjadi relawan, tapi semua itu membuat rindu dan rindu mengalahkan semuanya. Dipertengan tahun, saya mendapati diri saya kurang bersemangat, tidak memberikan apa-apa untuk orang lain dalam waktu yang cukup lama, tidak produktif padahal ada kerjaan juga di kantor. Sampai saya melihat ada pendaftaran relawan anak dalam program Nulis Bareng Sobat yang diadakan Lembaga Ibu dan Anak (LemINA). Lagi-lagi karena saya suka dengan literasi, saya tertarik dan mendaftarkan diri. Programnya adalah mengajar di SD selama enam bulan setiap dua kali seminggu. Wah, butuh komitmen yang kuat pikir saya. Awalnya saya sempat ragu bisa menjaga semangat dan komitmen saya mengingat jarak rumah saya dan SD ditempuh selama dua jam. Tapi, akhirnya setelah menjalaninya saya bisa (walau beberapa kali tidak ikut karena kerjaan). Lagi-lagi, bukan hanya karena saya bisa dan menjalankan komitmen saya, tapi karena saya punya tim yang hebat yang bersedia memberikan semangat setiap kali ingin mengajar, saling mengisi jika tidak bisa hadir, dan itu semua membuat kami saling mengenal dan menjadi dekat. 

Anak-anak SDN Paccinang 1 Makassar


Tim NBS Makassar

Satu lagi, saya juga menjadi relawan di kegiatan Ruang Berbagi Ilmu (RuBI), dimana kegiatannya adalah memberikan pelatihan untuk guru-guru SD, ada banyak program lainnya yang bisa kamu lihat di sini. Selalu, saya dipertemukan dengan orang-orang yang peduli. Menjadi relawan juga membuat kamu akhirnya mengenal lebih banyak sifat-sifat manusia dan bagaimana menjadi menyatu dengan hal tersebut sehingga kita menjadi lebih peka dan menghargai sesama.
Relawan pengajar dan panitia RuBI

Menjadi relawan itu berat, tapi selalu membuat rindu. Rindu bertemu dengan orang-orang baik dan melakukan hal baik. Walau berat, yakinlah yang kamu dapatkan jauh lebih besar. Menjadi relawan itu berat, kamu harus selalu kembali mengingat apa itu relawan, yang tidak mengharapkan imbalan. Terima kasih dan menjadi dikenal adalah imbalan yang cuma merupakan bonus.

Kita harus selalu bekerja dengan hati, karena apapun yang berasal dari hati akan sampai ke hati, jika kamu masih mengharapkan apa-apa selama menjadi relawan selain kebaikan, coba pikirkan lagi niat kamu. Dan menjadi relawan itu tidak pernah memiliki sifat individualisme, mereka berbagi, saling membantu, dan bekerja sama.


Ada penelitian yang mengatakan bahwa menjadi relawan akan membuat hidupmu lebih sehat. Mengapa? sebab relawan bekerja tak mengharap imbalan. Mereka hanya terus memberi dan berbuat baik – unknown


Ayok jadi relawan dan peliharalah kerja sama!

Friday, 17 February 2017

Aman Dalam Rasa Takut

Saya selalu merasa aman bersama orang yang masih mempunyai rasa takut. Kenapa? Bukannya kalau takut identik dengan lemah dan tidak berani? Kenapa kita selalu berpikir kearah yang negatif dan melupakan bahwa semua akan baik-baik saja ketika kita berpikir positif? Mungkin ada yang bertanya dan berpendapat seperti itu.

Iyah, saya merasa aman karena orang-orang yang masih mempunyai rasa takut itu akan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan, walau kesalahanlah yang membuat kita tahu arti dari kebenaran. Ini seperti kejadian yang dialami oleh supir yang angkotnya saya tumpangi tadi. Loh, apa hubungannya?

Saya adalah penggemar angkot, walau kadang uring-uringan juga kalau harus menunggu lama. Kalau di dalam angkot, saya memilih duduk di bagian ujung paling dalam. Kenapa? Karena saya bisa leluasa mengamati semua penumpang, salah satunya untuk bahan tulisan, sifat dan sikap mereka bisa dijadikan karakter tokoh dalam cerita.

Nah kembali keperistiwa supir angkot, dia tidak bersitegang ketika salah satu penumpangnya membayar dengan harga yang tidak layak. Dia sempat menggerutu sehingga penumpang tahu keadaannya dan berkata bahwa kenapa tidak memintanya saja, tapi apa yang dikatakan oleh supir angkot tadi sebagai jawabannya, “saya kenal orangnya Bu, dia orangnya emosional dan bertindak sesukanya, nanti kalau saya tagih malah marah.”

Saya berkesimpulan bahwa supir tadi takut bukan karena tidak berani melawan ketika nantinya bapak itu marah, toh yang dia minta haknya, melainkan dia takut karena tidak ingin terjadi hal-hal yang dapat meresahkan penumpang lainnya.

Tidak lama, seorang pengendara motor menyalip angkot yang saya tumpangi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pak supir tadi kembali bersuara, “Anak muda zaman sekarang, tidak takut mati yah. Selalu merasa hebat tanpa berpikir tindakannya itu meresahkan orang lain.”

Kembali saya merasa aman dibawah kendali supir ini. Menurut saya, dengan berceloteh seperti tadi, supir ini takut akan hal-hal yang mungkin terjadi saat berkendara sehingga lebih hati-hati dalam mengendarai mobilnya. Kami para penumpangpun keselamatannya terjamin.

Jadi, yang menjadi pelajaran buat saya dalam hal ini, takut bukan berarti lemah melainkan dapat membuat orang lain merasa aman. Dalam situasi tertentu, kita semestinya memelihara perasaan takut.

Diantara semua perasaan takut dan cemas yang kita rasakan, kita harusnya selalu merasa takut kepada Allah SWT, dan kalau semua orang-orang memiliki rasa takut itu, bukan hanya saat berkendara tetapi semua interaksi akan aman. Semua akan merasa aman.